Hijrah ke Buton

Lama rasanya tak menulis di sini. Bagaimana tidak, kehadiran berbagai sosmed membuat segalanya tinggal capture-post sebuah momen tanpa perlu deskripsi panjang lebar yang saat ini semakin terasa menyita waktu. Maklum sekarang udah jadi working mom alias makemak gawe 😅 *ngelestingkatdewa*

Yak, hari ini terhitung empat bulan satu minggu saya berdomisili di pulau aspal, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, masih Indonesia. Beuh, gak berasa udah lama aja di sini. Semoga gak bakal lama-lama amat. Hahaha…

Kenapa hijrah? Dan kenapa harus Buton?

Ya intinya saya ikut suami yang sudah deluan berdinas di sini. Tepatnya setelah satu setengah tahun pernikahan kami, setahun sejak penempatan saya di kampung halaman, sepuluh bulan sejak kelahiran anak pertama kami, dan lima bulan sejak permohonan mutasi ikut suami saya layangkan.

Cerita yang melatarbelakangi hijrahnya saya (dan anak kami) cukup panjang (x) lebar yang (sekali lagi saya tulis) cukup menyita waktu jika saya beberkan di sini. Namun alasan utamanya adalah, Nada. Ya, anak kami. Saya dan suami sepakat, tidak ingin lagi Nada tumbuh lebih besar tanpa keberadaan bunda-pappahnya di setiap harinya, di setiap merem-meleknya. Maka kami bertiga harus bisa bersama secepatnya, di mana pun kami bertugas. Meskipun keputusan ini awalnya cukup menguras air mata banyak pihak (termasuk saya sendiri).

And then now…
Menyesal? | Tidak.
Sedih? | Sesekali, terutama di bulan pertama di sini.
Saya rasa itu wajar. Namanya juga jauh dari orang tua dan kampung halaman tempat handai taulan. Tapi dari pada bersedih, ada buanyak hal yang patut saya syukuri di sini, tanpa bermaksud abai dengan keluarga di kampung halaman (di postingan selanjutnya akan saya ceritakan).

Pada dasarnya, waktu memang penyembuh segala sedih, gundah galau gulana, dan perasaan lain yang sejenisnya. Tapi kalau saya, ya alhamdulillah saat ini gak ada waktu buat itu semua. Wong liat muka polos Nada aja saya udah tersenyum sambil menghujaninya dengan ciuman. Apalagi kalau dia bertingkah menggemaskan, pecahlah tawa saya berikut perasaan jelek lainnya. Saya hanya bisa berdoa, semoga Allah senantiasa melimpahkan kebaikanNya untuk saya, juga orang-orang tersayang. Dan berusaha, agar saya tetap dapat berbuat baik kepada semuanya di manapun saya berada.

Buton, 2 April 2016

image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s