My Pregnancy Diary: 1st Month, 1st Experience

Suatu hari di bulan Mei…

Ini minggu keduaku di Ereke, kota kecil tempat suami berdinas. Juga minggu pertamaku telat haid. Suamiku bilang coba tes kehamilan pake tespack, siapa tahu udah hamil. Aku sendiri belum terlalu memikirkan keterlambatan haidku. Toh masih telat satu minggu. Walau memang biasanya siklus haidku sangat teratur. Tapi saran suamiku gak ada salahnya juga. Mengetahui kehamilan sejak dini kan lebih baik. Maka hari itu kami mampir ke apotek, membeli selembar tespack. Harganya terbilang murah, 5000. Bermerek yang tak ku kenal dan memang hanya ada merek itu saja di apotek Ereke.

Esok paginya, kucelupkan tespack ke urin pertamaku. Walau terbiasa cuek dengan segala sesuatu, tetap saja aku harap-harap cemas, menanti dua garis merah itu muncul. Dan… Hanya satu. Aku goyang-goyangin, puter sana sini, masih tetap satu garis. NEGATIF. Segera kuberi tahu suamiku sambil menggeleng, “Belum…”. Waktu itu suami cuma bilang, “Yaudah, sayang mungkin terlalu cepat. Besok-besok coba lagi.” Aku mengangguk, mungkin juga, pikirku. Tapi perasaan melow yang entah datang darimana malah beranggapan yang tidak-tidak, gimana kalau begini…, gimana kalau begitu…

Aku langsung searching. Dari beberapa situs yang ku baca, di minggu-minggu awal hormon kehamilan terkadang gak bisa terdeteksi oleh tespack karena belum begitu banyak. Bila hasil masih negatif dan haid tetap terlambat, coba 7-10 hari lagi. Aku kasi tahu suami. Seakan mengerti kecemasanku, suami memelukku dan bilang, “Jangan terlalu dipikirin ya, sayang…”. Seketika semua kecemasan itu lenyap.

Suatu sore, kami tiba di Kendari karena besok suami ada pelatihan di hotel. Kami komit sebisa mungkin selalu bersama. Karenanya, meski suami ada dinas di luar kota aku tetap ikut. Malam harinya usai jalan-jalan, kami mampir lagi ke apotek. Beli tespack lagi karena sudah seminggu lebih sejak tes pertama. Kali ini beli yang Sensitif yang dibandrol 25000. Lalu balik ke rumah tante, karena udah janji nginep di situ sebelum ke hotel.

Esoknya pagi buta, sekitar pukul 1 aku terbangun, tetiba kebelet pipis. Aku inget ma tespack yang dibeli semalam. Tapi jadi bingung, mau pakenya sekarang atau ntar aja. Aku bahkan membanguni suami, cuma buat nanya pake sekarang apa kagak -_-. Suami bilang pake aja. Yaudah, langsung cusss ke kamar mandi, celupin lagi, nunggu lagi, H2C lagi… :3 Dan …

Ku masukkan tespack ke bungkusannya lagi, balik ke kamar. Suami langsung nanyain. Aku pura-pura pasang wajah cemberut lalu ngasi tespacknya ke suami. Suami lalu membuka bungkusannya. Melihat dua garis merah itu, suami lantas memelukku, mencium keningku dan bilang, “Selamat jadi bunda, Sayang…” Aku speechless mendengarnya. Hanya balas memeluk suamiku. Lalu merasakan air mata bahagia mengalir di pipiku. Selamat jadi papa, Sayang. Selamat datang Calon Buah Hatiku…

wpid-img_20140531_095715.jpg

Kami tak sabar ingin segera periksa ke dokter. Tapi suami masih harus pelatihan selama beberapa hari dan full seharian. Siangnya kami chek in hotel. Bosen juga seharian di kamar hotel aja selama suami pelatihan. Aku cuma nonton tv dan keluar kamar kalo jam makan. Untungnya setiap break suami mampir ke kamar. Suami bilang, aku harus banyak istirahat. Aku gak heran suami bilang gitu. Pasalnya sebelum tahu aku hamil, aku banyak ngelakuin dan ngalamin hal yang bisa dibilang ekstrem buat bumil. Hampir setiap hari selama di Ereke kami main badminton. Sebelum berangkat ke Kendari, aku ikut suami mencacah ke kecamatan. Malam sebelum ke kecamatan, kami dan teman-teman kantor pergi memancing di pelabuhan hingga tengah malam. Dan dari Ereke ke kecamatan hingga ke Kendari, kami naik motor melewati jalanan si Pulau Aspal yang sama sekali tak beraspal. Sangking parahnya jalan menuju Kendari, kami sempat jatoh dari motor juga. :,( Maka tak heran kalau kami sangat mengkhawatirkan kandunganku. Suami pun sampai merasa bersalah…😦

Beberapa hari kemudian usai pelatihan kami pun ke dokter. Cemas masih menghantuiku sebelum aku mendengar sendiri dari dokter kalau kandunganku baik-baik saja. RS Permata Bunda Kendari menjadi tujuan kami. Sesampainya di sana, kami ditanyai beberapa hal, lalu dokter melakukan USG. Aku masih kagok banget. Suamiku juga. Masih bengong-bengong sama penjelasan dokter yang menunjukkan janinku di layar USG. Aku kurang paham tapi yang pasti aku hanya bisa terharu. USG itu semakin meyakinkanku, aku akan jadi ibu…🙂

Dan… Gak tahu apa karena tespack yang pertama itu murahan atau memang hormon kehamilanku belum terdeteksi, ternyata usia kandunganku sudah empat minggu. Alhamdulillah dokter menyatakan semuanya baik-baik saja. Dokter berpesan jangan terlalu panik, banyak makan sayur dan buah, lalu memberikan vitamin dan obat mual. Kalau aku pikir-pikir memang sih, sebelumnya waktu di ereke aku pernah muntah-muntah. Aku pikir cuma masuk angin. Badan rasanya kayak meriang terus. Waktu menuju kecamatan dan Kendari juga aku pusing dan cepat lelah. Ternyata… itu tanda-tanda kehadiran si calon dedek… ^_^

Begitulah awal mula kehamilan pertamaku. Keliatan banget ya katrok dan bingungnya kami. Namanya juga pengalaman pertama..😛 Terima Kasih ya Allah… Di awal dan akhir Mei ini Kau berikan dua anugrah cinta terindah dalam hidupku.🙂 Semoga kami bisa menjaga amanahMu ya Rabb. Aamiin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s