Kamu, Langit Malam, dan Debur Ombak (Tentang Bintang)

Masih ingatkah kau Sayang, kita pernah bercerita tentang bintang? Malam itu aku masih dalam perjalanan sekembalinya dari Gunung Papandayan. Kau sudah sibuk menelponku. Aku pun tak kalah girang menceritakan pendakianku,

“… Pas pagi-pagi buta, dari terminal Garut kami naek mobil bak terbuka ke tempat start pendakiannya, Yank. Dingiiiiin banget loh. Bayangin aja lewatin hutan-hutan gitu. Jalanan banyak tanjakan dan berkelok-kelok gitu. Rada serem, Yank. Aku juga kedinginan. Tapi, pas aku liat ke atas… Wow…… Bintang-bintangnya banyaaaaak banget. Langit malamnya cerah. Kami pun sibuk mengukir rasi bintang dengan jari. Aku jadi lupa sama rasa dinginnya…”

“…Aku lagi bakar-bakar ikan di tepi pantai, Beib. Langitnya juga cerah dan banyak bintang…”

“Tapi kemaren itu bintangnya beneran banyak banget loh, Yank!”

“Masih banyakan bintang aku di sini donk…”

“Nggaklah… Banyakan di Papandayan!” >> masih gak mau kalah

“Bintang aku di sini kan yang di langit sama di laut…”

“……….” “I,iya deh… ” -__-

Lucuk aja. Seperti terjadi perang antara Gunung dan Laut. ^^ Itu dulu, Sayang. Sudah lebih setahun yang lalu. Saat raga kita belum bisa bersama. Kita suka memperdebatkan dan memamerkan hal kecil di tempat masing-masing kita berada. Seperti tentang bintang.

Kini, malam ini menjadi satu dari sekian banyak malam bersamamu yang tak ingin kulupakan. Di tepi pantai di pelabuhan Ereke, di saat yang lain sibuk menunggu umpan yang tak kunjung dimakan ikan, aku+kamu=kita, malah asik tiduran. Meski beralaskan kardus, tapi kita berselimut bintang, beratapkan Milkyway. Ya, langit begitu cerah malam itu. Menampakkan seisinya, persis seperti yang kulihat di Papandayan waktu itu. Ditambah nyanyian debur ombak dan semilir angin laut. Juga ada kamu, tepat di sampingku. Sesekali membetulkan jaketmu yang menutupi tubuhku. Menghangatkanku yang masih enggan berdamai dengan dinginnya malam.

Kita lalu merangkai rasi bintang sambil bercerita banyak hal. Aku suka, ceritamu yang selalu mengagumi bintang, bagaimana bisa sejak dulu susunannya menjadi navigasi di laut lepas. Aku suka tawamu saat ber-snorkling-ria di lautan. Aku suka kecintaanmu pada berlayar, seperti film one piece favoritmu. Meski aku tak begitu suka wujud manusia-manusia karet bermata besar di film itu. -,-

Sungguh, malam ini adalah moment terindah dalam hidupku. Seakan aku tak menginginkan apa-apa lagi. Karena kamu, langit malam, dan debur ombak, adalah perpaduan yang begitu manis.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s