Pahlawanku, Cinta Pertamaku, dan Profesinya [2]

Lanjut lagi…^^ Pahlawanku, Cinta Pertamaku, dan Profesinya [1]

Alhamdullillah anak-anak ayah semua bersekolah di sekolah favorit di kota ini sejak TK hingga sekolah menengah. Bahkan dengan aku yang sempat berkuliah di USU saja seakan bisa membalaskan dendam ayah yang tak bisa menembus kampus itu meski akhirnya aku masuk di STIS. Lalu Dita sekarang seakan mewakilkan dirinya kuliah di IKIP Medan yang sekarang bernama Universitas Negeri Medan (Unimed). Abang meski tak kuliah sekarang bekerja di perusahan furniture dan adikku yang paling kecil masih SMP. Sekolah kami, makanan yang masuk ke perut kami, rumah tempat kami bernaung, semua dari goyangan kakinya di mesin jahit itu. :’)

Dan ayah tetap manjadi penjahit hingga sekarang ini. Ayah menjahit hanya di rumah, membuat ayah selalu berada di rumah dan mencurahkan segala daya upaya dan kasih sayangnya untuk kami. Aku sangat bersyukur, teringat banyak ayah-ayah lainnya yang terkena terik panas, hujan, resiko kematian di tempat kerjanya, begadang atau lembur hingga tengah malam, bahkan ada yang tak pulang berbulan-bulan lamanya. Aku sangat bersyukur ayahku tetap di rumah bersama kami, bisa makan bareng, nonton bola, berkebun, keliling kota sambil membeli bahan menjahit, juga ada yang ngomelin kalau kami telat sholat atau belum juga mandi ketika adzan maghrib berkumandang ^^. Ayah juga yang mengurusi banyak keperluan kami, mulai dari ke pasar, daftar sekolah, beli segala keperluan, ngobatin kalau kami sakit, dll. Ssssst… jangan heran kalau mamakku jadi rada malas ngurusin apa-apa selain urusan dapur. ^^ Begitulah. meski tak bergelimang harta, tapi kami dilimpahi kasih sayang. Meski hasil menjahit tak seberapa, ayah juga tak memaksa mamak bekerja. Mamak hanya sempat menjual kue ke warung-warung waktu aku SMP. Selebihnya mamak menjadi ibu rumah tangga sejati. Semua itu justru mengajarkan kami hidup sederhana.

Dan ayah tetap manjadi penjahit hingga sekarang ini. Ayah menjahit hanya di rumah. Pernah aku bertanya kenapa ayah tak membuka toko atau bisa dibilang butik, untuk tempat menjahit di tengah kota atau di tepi jalan besar, bukan di gang rumah kami ini. Itu pun di gang bukan di kios, tapi benar-benar di dalam rumah. Bagian samping rumah ini pun menjadi tempat berlalu-lalangnya pelanggan ayah. Maksudku mengusulkan begitu biar lebih maju dan dikenal usahanya. Ayah hanya menjawab santai, “Di sini ajalah, nanti juga orang-orang yang udah tahu datang sendiri.” Memang benar sih, pengalaman ayah menjahit berpuluh tahun lamanya sudah membuatnya cukup terkenal di kota ini. Tak pakai embel-embel nama toko, cukup pakai namanya sendiri, Rauf, si Penjahit. Terkenal seantero Rantauprapat hingga di luar kota.

Dan ayah tetap manjadi penjahit hingga sekarang ini. Ayah menjahit hanya di rumah. Yeah, tak satupun kami anak-anaknya yang mewarisi keterampilannya. Ayah justru tak ingin kami sepertinya. Prinsip orang Batak, dikatakan berhasil kalau anaknya sekolah tinggi-tingginya. Tak ayal SMA tempat aku dan Dita bersekolah saja saja sungguh melelahkan. Kuliah di STIS masih tak seberapa lelahnya. Sekolahnya pagi dan sore. Jangankan untuk belajar menjahit, megang sapu saja hanya kadang-kadang. Aku hanya sekedar membantu ayah memasang kancing atau lebih sering mengantar pesanan pelanggan ke rumahnya kalau kami sudah sangat butuh uang. Begitupun sehari-hari mendengar deru mesin jahit ayah, aku jadi mengenal berbagai jenis kain, bagaimana cara memperakukannya, bagaimana menggunakan alat pembuat kancing. Belakangan banyak waktu luang tiga bulan ini di rumah aku mulai memanfaatkan kain sisa membuatnya menjadi bros bunga-bunga seperti yang kuposting sebelumnya dan… uhm, bukan anak Ekonomi namanya kalau tak punya otak dagang. Yak, pembaca yang budiman, saya jualan bros, masih sama tetangga, sodara, dan teman-teman sekolah adik saya. Kerjaan sampingan sebelum berkutat dengan angka statistik nantinya.

Kembali ke profesi ayah. Ayah kebanyakan menjahit untuk wanita. Kata ayah ya karena lebih suka saja menjahit baju cewek. Ini sempat membuat mamakku cemburu loh~ Hihihi… Tapi ya lama-lama mamak udah biasa, namanya juga udah kerjaannya ayah didatengin wanita-wanita kayak gitu. Haha… FYI, omset ayah menjahit di kota ini sebenarnya lumayan. Sepasang kebaya ongkosnya saja 250.ooo rupiah atau kalau kebaya dengan teknik susun bunga bisa mencapai 300.000-an rupiah. Sepasang seragam kerja sekitar 150.000-200.000 rupiah. Semua tergantung seberapa banyak biaya untuk bahan tambahan dan tingkat kesulitan menjahitnya. Untuk kainnya, biasanya udah dibawain sama pelanggan. Jadi kalau dihitung-hitung kalau sehari selesai satu pasang berartii bisa mencapai 6 juta rupiah per bulannya. Itu kalau ayah menjahit tiap hari. Lah ini, ayah menjahit sesuka hatinya kapan dia mau. Tiap hari tidur siang. Ayah bosnya, ayah juga karyawannya. Ayah juga jadi punya banyak waktu untuk ibadah, sosialisasi, dan menjalin silaturahmi. Itulah kelebihan lain dari profesi ayah ini. Ayah tak suka bekerja diperbudak waktu. Makanya yang mau jahit ke ayah harus datang paling mepet seminggu sebelum deadline dan ayah juga tak menerima borongan pakaian yang sama dengan jumlah besar. Kata ayah, membosankan menjahit baju yang itu itu saja. Jadilah pemasukan ayah dari menjahit ini bisa dibilang hanya cukup. Cukup untuk makan, cukup anak-anak bisa sekolah, cukup punya rumah, cukup punya motor dua *loh*. Tapi dari santainya ayah menjalani profesinya ini aku jadi mengambil hal positifnya. Ya, dalam hidup, kita harus mengenal kata ‘cukup’.

Bukankan ayah sudah bilang bahwa semua pekerjaan itu pasti ada kekurangan dan kelebihannya? Menjahit juga bukan tanpa kekurangan. Hampir sama seperti berdagang, penjahit juga harus tahu kondisi perekonomian terkini dari wilayah pemasarannya. Kondisi kabupatenku yang sebagian besar masyarakatnya bergantung pada hasil dan harga kelapa sawit, membuat pendapatan ayah juga bergantung pada sawit meski ayah tak punya ladang sawit seperti kebanyakan rekannya. Pernah tahun lalu harga sawit jatuh, bertepatan naiknya harga BBM, tahun ajaran baru sekolah, dan bulan Ramadhan. Prioritas masyarakat tak lagi ke menjahit baju baru untuk ke kondangan. Jadilah orderan ayah nyaris kosong, hanya beberapa seragam sekolah. Selain itu, ayah juga merasa sudah semakin tua untuk menjahit. Matanya saja kadang tak bisa lagi membantunya memasukkan benang ke lubang jarum. Ya, semua profesi pasti dibatasi usia tua.

Saatnya kami, anak-anaknya yang bekerja, meski  bukan dari menjahit juga. Pekerjaaan yang kami jalani, apapun itu, buah dari pekerjaan ayah, menjahit! Sekali lagi aku tuliskan, bangga menjadi anak penjahit, bangga menjadi anak ayah.🙂

Lovely,

Anak Ayah yang Ke-2

SONY DSC

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s