Pahlawanku, Cinta Pertamaku, dan Profesinya [1]

Sebenarnya sudah lama ingin menulis tentang AYAH. Sebelumnya hanya bisa menuangkannya dalam cerita mini Goyang Kaki. Walau ini tentangnya, tapi tulisan ini kupersembahkan buat my Long Distance Friendship, Annesa Nurul. Soalnya hari ini dia bawel banget nanyain ayahku dan profesinya. Hahaha… Jadi sekalian saja.😉

Hhmm… ayah, sejak kecil sudah berkutat dengan dunia jahit-menjahit. Sejak kelas dua SD! Jadi almarhum atok (ayah dari ayahku) dulunya juga seorang penjahit dan berjualan pakaian jadi di pasar tradisional. Abangnya ayah yang sulung juga seorang penjahit. Ayah merupakan anak ke-5 dari 8 bersaudara. Kondisi keluarga yang kurang berada membuat ayah menjadi mandiri sejak kecil. Ayah lalu belajar menjahit secara otodidak. Coba-coba sendiri. Hingga mulai bisa membuat celana, lalu mulai menerima orderan dari teman-temannya.

Lulus SD alm. atok bilang ke ayah kalau mau lanjut SMP, daftar sendiri, biayai sekolah sendiri. Berbekal keterampilan menjahit yang masih tak seberapa itu ayah pun membiayai sekolahnya sendiri, hingga SMA. Ayah juga berkisah ketika uak (abangnya ayah, anak ke-4) berkesempatan kuliah di luar kota, dari hasil menjahit itu ayah turut mengirimkan 5ooo rupiah jika atok mengirimkan wesel 10.000 rupiah. Sayang, kala itu uak yang satu-satunya anak yang kuliah hingga PNS, meninggal dunia tak sampai dua tahun setelah atok meninggal.

Ayah sebenarnya bercita-cita menjadi polisi. Tapi atok melarang. Lulus SMA, ayah masuk 10 besar dan berkesempatan masuk IKIP Medan lewat jalur PMDK. Namun kala itu, menjadi guru bukanlah profesi favorit. Darah mudanya lebih merambisi masuk Universitas Sumatera Utara (USU). Apadaya, dua kali mengikuti ujain masuk ayah tak lulus. Keinginan masuk kuliah pun pupus. Ayah pun tetap menjahit. Namanya manusia, pasti ada rasa jenuhnya. Lama-kelamaan ayah bosan menjahit dan merasa tak mungkin berpencaharian sebagai penjahit untuk menghidupi keluarganya kelak. Lalu ayah mulai bekerja serabutan. Semua pekerjaaan pun sudah dijalani, jadi tukang bangunan, jadi pendekorasi, jadi pedagang, jadi petani. Tapi tak ada yang ayah rasa enak dijalani. Dari situ ayah sadar, bahwa pekerjaan apapun itu, semua ada kekurangan dan kelebihannya. Ayah pun kembali menjahit. Karena bagi ayah, itulah profesi yang dia rasa lebih mudah dan kecil resikonya.

Tahun 1988 ayah menikah dengan mamak yang lebih muda 5 tahun darinya. Abang lahir setahun kemudian disusul aku dan adikku, Dita. Kami bertiga hanya berjarak dua tahun. Jadilah aku salah satu saksi hidup profesi ayahku ini. Aku ingat sejak balita selalu diajak ayah naik becak sepeda ke pertokoan di kota kecil kami ini. Jalan-jalan sekaligus belanja bahan-bahan menjahit.  Naik becak karena waktu itu ayah belum punya sepeda motor. Kami, anak-anaknya, pun menjadi ‘korban’ kreativitasnya. Siapa sangka aku yang rada tomboy ini waktu balita pernah mengikuti kontes peraga baju muslimah dan menjadi juara ketiga. Tentu saja bajunya bikinan ayah. Hingga kami semua tumbuh dewasa entah berapa banyak sudah pakaian yang dibikin ayah. Setiap lebaran, setiap kondangan, kebaya wisudaku, hingga baju magang saja sudah ada dua dan akan dibuatkan lagi nantinya. Padahal magangku saja belum tahu kapan mulainya. -__- Belakangan ibarat tukang bakso yang bosan makan bakso, kalau minta dibikinin sesuatu sama ayah, ayah bilang udah beli aja, lebih murah juga!

Cerita Goyang Kaki hanya segelintir kisahku tentang profesi ayah. Di mana pun aku dan saudara-saudaraku bersekolah, pasti guru-guru kenal sama ayah. Ya karena ujung-ujungnya mereka menjadi langganan ayah :3. Pernah ketika bocah aku mengikuti perlombaan 17-an di gang rumahku, lomba memasukkan benang ke lubang jarum. Jangan tanya kenapa ada lomba semacam itu, aku pun tak tahu. Dan… well, I’m the winner. Panitia lomba dan beberapa warga pun berkomentar, “Jelaslah, menang. Anak tukang jahit sih…” *Bukan salah saya kalau saya anak tukang jahit, Pak, Buk…* :P Pernah juga ketika wawancara masuk STIS dulu ditanya apa pekerjaan orang tua, salah seorang bapak yang mewawancara berkomentar, “Jadi anaknya empat, satu tidak kuliah, lalu kamu, dan kedua adikmu masih SD dan SMA, hanya dibiayai dari menjahit saja??? Emang bisa???”. Aku hanya tersenyum dan menjawab, “Insyaallah bisa, Pak. Alhamdulillah, ya… sampai sekarang ini saya pun bisa lulus SMA dan mendaftar di sini juga karena ayah saya.”

Itulah ayah, meski susah, tak mau ada anaknya yang tak sekolah. Layaknya bapak pewawancara yang setengah tak percaya itu, banyak orang juga tak percaya bahkan memandang ayah sebelah mata dalam hal membiayai sekolah anak-anaknya. Bayangkan saja, tiga anak pertama hanya berjarak dua tahun. Yang satu mau masuk SMA, yang lain mau masuk SMP. Apalagi waktu aku mau kuliah ke Jakarta, sempat dibuat ciut ayah oleh temannya yang mengatakan ayah tak akan bisa membiayaiku. Tapi ayah percaya, kalau dia bisa membiayai SMA kami yang biayanya sama besarnya dengan kuliah itu, kenapa tidak bisa membiayai kuliah hingga ke Jakarta sekalipun! Kata ayah ini juga jadi pelajaran. Ayah selalu nasehatin semua pengantin baru, kalau punya anak paling gak jaraknya tiga tahunlah. Itu pun kalau kondisi keuangan orangtuanya mapan. Kalau gak, jaraknya lima tahun. Itu penting kata ayah, biar gak ngos-ngosan biayain sekolahnya ntar. Haha…

Continued… Pahlawanku, Cinta Pertamaku, dan Profesinya [2]

2 thoughts on “Pahlawanku, Cinta Pertamaku, dan Profesinya [1]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s