Repost: Goyang Kaki

A mini story Sepenggal Kisah Putih Biru [Tentang Ayah]

Siang yang begitu terik. Matahari menantang siapa saja yang berani menatapnya, termasuk gadis kecil itu. Ia berjalan menunduk, menyebrangi lapangan sekolah. Ruang guru yang ditujunya terlihat sepi. Pelajaran sekolah memang belum usai, guru-guru masih melakoni profesinya di kelas masing-masing. Sesampainya di ruang itu, diambilnya sepotong kapur tulis yang memang sudah berpatahan. Mulailah ia menulis di papan tulis. Sebagai sekretaris OSIS, sudah menjadi kewajibannya menuliskan pengumuman atau undangan yang ditujukan kepada guru-guru di sekolah itu. Dari goresan kapur yang dibuatnya terukir untaian kata dan kalimat yang tersusun rapi. Horizontalnya begitu lurus. Lekukan-lekukannya begitu tegas, menciptakan barisan-barisan huruf yang indah. Hampir selesai. Tanpa disadarinya seseorang memasuki ruangan itu.

 “Bagus kali tulisan kau itu…”

“Eh, Pak Saragih…” gadis berseragam putih biru itu agak kaget. (Budaya suku batak memanggil orang tua seperti guru dengan hanya menyebutkan marganya saja)

“Anak siapanya kau?” orang yang dipanggil ‘Pak Saragih’ itu lalu bertanya dengan aksen bataknya yang kental.

“Ng…” si gadis kecil bingung menjawab apa. Bukan karena amnesia tentang siapa nama orang tuanya, melainkan karena ia tak yakin guru Sejarah ini kenal dengan orangtuanya walau ia menyebutkan ia anak siapa. Sebab ia bukan anak artis, udztad atau pejabat di kotanya. Dan gadis kecil itu pun yakin pak gurunya itu bukan langganan ayahnya. Sebab ayahnya kerap menerima pelanggan perempuan daripada laki-laki.

“Apa kerja bapakmu?” tanya Pak Saragih lagi pada gadis kecil itu. 

Bah, apa pulak hubungannya tulisan tangan yang bagus sama pekerjaan bapakku?, pikir gadis kecil itu lagi. Namun kali ini ia menjawab,

“Goyang kaki, Pak. Kerja ayah saya goyang kaki.”

Pak Saragih bingung. Kedua alisnya yang sangat tebal hampir bertemu. Keningnya jadi berlipat-lipat. Mengkilat.

“Pekerjaan ayah saya menjahit, Pak,” jawab gadis kecil itu lagi sambil tersenyum.

“Hahaha…” tawa Pak Saragih pecah. “Bapak pikir apa itu goyang kaki. Hebat ya, anak tukang jahit tulisannya sebagus ini.”

Sekali lagi gadis kecil itu bertanya-tanya dalam hati, apa pulak hubungannya tulisan tangan yang bagus sama pekerjaan bapakku?                                           
                                  * * *
Lonceng pulang sekolah dibunyikan Bu M. Silalahi dari Kantor BP (Badan Piket). Si gadis kecil keluar dari kelasnya. Ayahnya sudah menjemput di dekat gerbang sekolah. Ia duduk di boncengan sepeda motor ayahnya. Mulailah ia bercerita.

“Yah, tadi dibilang pak guru tulisan awak bagus.”

“Iya?”

“Iya, terus ditanyanya apa kerja bapakmu.”

“Terus Ina bilang apa?”

“Ina bilang kerjaan ayah goyang kaki.”

“Hahaha…”

Honda Grand Astrea keluaran 1996 yang mereka tumpangi terus melaju. Menuruni pertigaan jalan bersama semilir angin yang berhembus dari utara.

* * *

Terima kasih karena selalu mengurai banyak tawa di sela-sela goyangan kakimu.. I love you.


Jatinegara, 06 Juni 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s