Random Pagi

Kicau burung di luar sana mengajakku yang sudah terjaga sejak subuh keluar dari kamarku. Kupandangi sekitarku di bawah langit yang masih gelap membiru. Belum mengizinkan sang mentari menampakkan diri. Kicau burung masih bersahutan. Sembari kokok ayam meramaikan. Sebegini ramainya pagi tapi kenapa kebanyakan orang masih lebih suka bergelayut mimpi di balik selimut. Sungguh pertanyaan retorika barangkali.

Sejuk udara pagi ini kuresapi dalam-dalam. Seperti meresapi keberadaanmu. Nyata tapi tak ada. Kau hanya bisa hadir di setiap mimpi. Di setiap malam-malam kerinduan. Tapi bagiku itu pun cukup. Walau mencintaimu tak mengenal kata cukup.

Sehelai daun jambu yang menguning menjatuhiku. Mengembalikan pikiranku yang sempat melayang hingga Buton Utara sana. Ah… sering kali jarak membuat kita menjadi puitis, bukan? Jadi biar kulanjutkan.

Nyatanya aku tetap di sini. Meski pikiranku suka melayang bahkan ke tempat yang belum pernah kuinjak, kota kecil tempatmu berpijak. Tempat yang setahun ini kuidamkan untuk menyepikan cinta kita dari masa lalu. Hanya ada kau dan aku. Biar sunyi tapi aku sudah merasakan damainya. Karena debur ombak di sana menemani di kala siang dan hujan sudah cukup menjadi penenang malam. Ombak dan hujan. Nyanyian paling indah…

Mataku menatap kosong pasir pekarangan. Tanpa kusadari putik-putik bunga jambu jatuh menghujaniku. Hmm… sudahlah, aku masuk saja ke rumah. Karena semakin lama berdiam di sini, rindu semakin merasuki rumah hatiku.

Rantauprapat, 06:00 am 28th Dec 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s