Jejalan sama Ibuk

Gagal liburan ke Balikpapan dan tak jadi ke Kabupaten Bandung, tertanggal 06 Maret aku ke Parung Panjang, Kabupaten Bogor. Meskipun lebih dekat dibanding kedua tempat yang tak jadi kudatangi, tapi yang ini adalah pengalaman yang berarti banget buatku. Why? Karena ini kali pertama aku maen ke rumah ibuk. Ibuk, begitu aku memanggil beliau, belakangan sering sendirian di rumah, makanya ibu senang banget aku maen ke sana.

Bagiku perjalanan kali ini seperti pulang, juga seperti jejalan sama sahabat. Karena itu, walau baru pertama kali datang, di sana aku sama sekali tak merasa canggung apalagi jadi jaim. >,< Terlebih ibuk baik banget. Aku pun berusaha menjadi anak yang baik, makanya aku nurut aja apa kata ibuk. Diajak tiduran nonton sinetron, ya aku tiduran… Disuruh makan, ya aku makan… Pas gorengin ubi, ya… keiteman… Yaaa gitu deh. -___-“

Keesokan harinya, early in the morning kami sudah bersiap-siap, berencana ke Masjid Kubah Emas di Depok. Aku sudah siap dengan tasku, karena mau langsung balik ke kosan setelah jejalan sama ibuk. Santai aku duduk di teras menunggu ibuk mengunci pintu rumah. Tapi ibuk malah nongol dari dalam rumah dengan menyodorkan botol minyak kayu putih kepadaku tanpa bicara. Hanya dengan ekspresi yang mengisyaratkan, ini ketinggalan. Aku baru sadari kalau minyak kayu putihku tertinggal di kamar ibuk. Tak sampai semenit ibuk keluar lagi, menyodorkan sebuah buku. Alamak, buku Radikus Makan Kakus karya Abang-Satu-Marga-Beda-Induk-Denganku itu pun tertinggal di dalam rumah. Aku cengir saja, malu. Bukan karena keteledoranku mencecerkan barang-barang sendiri, tapi kerena ibuk melihat wajah Abang-Satu-Marga-Beda-Induk-Denganku itu di cover. Lihat saja ekspresi ibuk yang menyerahkan buku itu kepadaku tanpa kata-kata yang kali ini kutafsirkan sendiri dengan, Apaan sih bacaan ni anak… Bagaimana tidak, siapapun pasti terheran-heran melihat tampang Abang-Satu-Marga-Beda-Induk-Denganku ini, (_ _”)>

images

Berangkat dari stasiun Parung Panjang, santai kami menumpangi kereta AC. Padahaaal, tiket yang dibeli ‘ekonomi’! Kami salah naik kereta. Tapi ibuk bilang udahlah, gak apa-apa. Awalnya aman. Tapi setelah kuceritakan pasalnya, Kak Darma pun sms, bilang turun saja di stasiun terdekat, bahaya, bisa denda dan panjang urusannya, begitu singkatnya saran perintah Kak Darma. Tapi ibuk masih stay cool, padahal kami sama-sama takut juga, huhu…

Foto5822

Dan… petugas pemeriksa karcis pun datang. Kami semakin ketar-ketir. Langsung berdiri, pura-pura hendak turun karena kebetulan kereta akan berhenti di salah satu stasiun. Lewatlah sudah. Kami tidak diperiksa. Kereta jalan lagi, dan dengan bandelnya kami duduk lagi! Alamak… tak pernah aku melakukan tindak kriminal seperti ini. Tapi justru membuat jejalan ini menjadi berkesan. Lebih seru dibanding jejalan sambil tertawa sama teman-teman kampusku. Juga tak kalah dag-dig-dug dibanding duduk berdua nonton di bioskop sama Kak Darma! Muahahaha…😛

Singkat cerita, sesampainya di Masjid Kubah Mas, tempat itu malah tutup. Khusus di hari Kamis. Mungkin kami kena karma karena bandel naik kereta AC tadi. Wkwkwk~ Karena jejalan kali ini aku sebagai guide-nya, inisiatif langsung ku ajak ibuk ke Masjid Istiqlal dan Monas. Berhubung ibuk juga belum pernah ke kedua tempat itu.

Kami tiba di Istiqlal bertepatan dengan adzan Zuhur. Kami pun berwudhu dan sholat. Minta ampun sama Alloh udah bandel naik kereta AC tadi pagi. v_v Hihiihi… Gak gitu juga kaleee. Ibuk bilang, “Ayuk kita jamaah, Wina. Berdoa, biar tujuan dan keinginan kita tercapai…”😉

Lepas sholat, kami pun berdoa. Khusyuk. Ini moment yang paling mengharukan. Kami, aku dan ibuk. Dua wanita yang usianya terpaut jauh, dalam doa merindukan lelaki yang sama, yang jauh di seberang pulau sana. ^__^

Tiba di Monas, kami makan siang di taman. Ibu membawa bekal banyak sekali…😀 Lepas makan kami masuk ke bagian dalam monas. Aku yang membeli tiket, pake kartu mahasiswa! Huahaha… Tampaknya kriminalitas kami hari ini masih berlanjut. Hehehe~ ^,^v Di cawan monas kami leye-leye. Lama-lama ibuk tertidur. Aku duduk-duduk saja di dekat kepala ibuk, menikmati semilir angin yang memang mengundang kantuk. Lapar, aku pun memakan ubi setengah gosong yang ku goreng tadi subuh, merasa punya tanggung jawab moral menghabiskannya.😛 Aku mengunyah sambil memandangi foto kakak di HP-ku. Bergumam dalam hati, Ah… Seandainya kau di sini, Kak… Jejalan bersama kami dan juga makan ubi setengah gosong ini… :’)

Jejalan ini pun berakhir di stasiun Tanah Abang. Ibuk balik ke Parung Panjang dan aku ke kosan. Ibuk memelukku erat, bilang agar aku baik-baik dan menyuruh main lagi ke Parung Panjang. Ibuk terlihat sedih, aku pun terharu. Cuma bisa bilang iya juga berpesan agar ibuk hati-hati di jalan.

Kopaja 506 membawaku yang langsung tertidur pulas…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s