Review: Sunset Bersama Rosie

Judul : Sunset Bersama Rosie

Penulis : Tere Liye

Penerbit : Mahaka Publishing

Jumlah halaman: 426 halaman

Terbit : November 2011

Ada beberapa buku baru di lemari yang ‘mengantri’ untuk ku baca. Usai ujian komprehensif rasanya tak afdol kalau belum melahapnya. Minimal satu, dan di antara beberapa, pilihan yang satu itu jatuh pada Sunset Bersama Rosie. Sederhana saja, aku suka laut seperti cover-nya. Sunset kan memang biasa dinikmati di laut, walaupun sunset bisa ada di banyak tempat. Di mana pun kita berada dan bisa memandang matahari menenggelamkan diri di balik horizon, di situlah ada sunset. Selain itu karena laut sudah menjadi topik hangat buatku sehari-hari, sejak menetapnya Kak Darma di Buton, sebuah pulau di bagian tenggara Sulawesi.

Novel yang terbilang tebal, di sela-sela waktu memenuhi pesanan Kak Darma dua hari ini tamat sudah aku membacanya. Kisahnya tentang lelaki yang memendam perasaannya selama dua puluh tahun lamanya, hingga semuanya terlambat dan ‘kesempatan’ itu tak kunjung dia dapatkan. Biasa saja? Memang, secara garis besar jalan cerita cintanya biasa. Tapi seperti biasa Bang Tere menuangkannya dengan ‘luar biasa’, di luar sudut pandang  orang biasa.

Sama halnya dengan Hafalan Shalat Delisha yang bersetting pasca bencana tsunami di Aceh 2004 silam, novel bang Tere kali ini juga mengangkat sebuah tragedi. Bom Bali lebih tepatnya. Kebahagiaan intens dalam sebuah keluarga kecil selama belasan tahun diputarbaliknya dengan duka berkali lipat melalui peristiwa yang tak terlupakan di pulau dewata itu. Sebuah keluarga kecil pemilik resor di Gili Trawangan, Lombok yang sebagian besar anggotanya memang masih ‘kecil-kecil’, harus menanggung beban yang ‘besar-besar’.

Kalian akan tumbuh menjadi anak-anak yang mengerti. Mengerti bahwa memaafkan itu proses yang menyakitkan. Mengerti, walau menyakitkan itu harus dilalui agar langkah kita menjadi jauh lebih ringan.

Aku suka setting novel ini. Sunset ada di mana-mana, di puncak Gunung Rinjani, di laut, di balik gedung-gedung pencakar langit Jakarta, juga di atas pesawat. Sensasi sunset di tas pesawat sungguh berbeda. Cakrawala yang kita saksikan bukanlah antara kaki langit dengan laut atau daratan, melainkan dengan awan-awan putih. Sunset di atas pesawat itu lebih dahulu kita nikmati, sedang bagi orang-orang di bawah sana matahari masih sempurna menerangi. Aku tahu sensasi itu karena setiap pulang libur semester aku suka menumpangi penerbangan sore hari. Mungkin demikian halnya dengan sunset di puncak Rinjani. Sunset. Empat puluh tujuh detik yang hebat, begitu Bang Tere menuliskannya.

Melalui novel ini aku yang tumbuh besar di antara kebun kelapa sawit jadi tahu bagaimana menghabiskan hari-hari bahkan tahun-tahun di laut, tinggal dekat dengan laut dan antek-anteknya, juga tentang Gunung Rinjani berikut Danau Segara Anakan-nya. Ah, entah kapan aku bisa menginjakkan kaki di puncak gunung yang satu ini.

Selalu ada pemahaman baru tentang segala sesuatu setiap usai membaca karya Bang Tere. Sedang dari novel ini, muncul pemahaman tentang sebuah ‘kesempatan’. Bahwa ‘kesempatan’ bukanlah sesuatu yang hanya dinanti, membiarkan takdir mengambil alih. Bukan pula perihal berani atau tidaknya kita mengambil ‘kesempatan’ itu, melainkan bagaimana kita berani mencipta sebuah ‘kesempatan’ untuk diri kita sendiri.

Kita tidak akan pernah mendapatkan sesuatu jika kita terlalu menginginkannya. Kita tidak akan pernah mengerti hakikat memiliki, jika kita terlalu ingin memilikinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s