Punk Muslim, The Agen of Change

Punk Muslim? Punk kok pakai embel-embel ‘muslim’ segala? Mungkin demikian pertanyaan di benak kita ketika pertama kali mendengar Punk Muslim. Lalu apa sih Punk Muslim itu? Apa bedanya dengan punk yang lain? Dari bang Otoy dan ketua Punk Muslim, bang Lutfi, kami pun mendapatkan jawabannya.

Punk Muslim awalnya adalah sebuah komunitas kecil bernama Sanggar Warung Udik. Sejak tahun 2006 komunitas ini setiap tahunnya mengadakan kemping atau jelajah alam ke daerah Puncak, Bogor untuk para anak jalanan. Beberapa ‘petinggi’ Warung Udik termasuk Alm. Budi dan Bang Lutfi juga membentuk sebuah band bernama Punk Muslim. Jadi awalnya PM adalah bagian dari Warung Udik. Lama-kelamaan kegiatan kemping anak jalanan ini juga banyak diikuti anak-anak punk. Akhirnya Alm. Budi mendirikan komunitas Punk Muslim (PM).

Alm. Budi sendiri basic-nya memang pernah nyantri. Namun bersama bang Lutfi, bang Zaki, dan pengurus lainnya dulunya beliau juga pernah menjadi punk jalanan. Contohnya saja bang Lutfi, menjadi anak jalanan sejak tahun 1999 hingga bergabung dengan PM. Pada 7 Juli 2007, Alm. Budi meninggal dalam sebuah kecelakaan di usia 33 tahun. Sejak itu PM bangkrut dan memulai semuanya dari nol lagi, demi meneruskan perjuangan Alm. Budi.

PM pertama kali mengadakan pengajian di sebuah halte. PM tidak hanya membina punkers Jakarta saja, tapi juga punkers yang datang dari luar Jakarta. Beberapa dari PM bahkan ada yang baru memeluk agama Islam. Setelah para PM menjadi orang yang lebih baik, taat beribadah, solid dengan yang lainnya, ataupun sudah berkeluarga, maka sebaiknya pergi jauh-jauh, jangan jadi PM lagi, jadi Muslim saja. Kembali ke asal daerahnya dan menjadi masyarakat biasa. Intinya PM adalah medianya punkers untuk berubah dari yang jahat menjadi yang baik.

skema

Berlokasi di Gang Swadaya dekat terminal Pulo Gadung, PM didirikan dengan tujuan dakwah, hanya ingin mengajari anak-anak punk jalanan yang mau diajarkan saja. Artinya tidak ada paksaan. Targetnya mengurangi punk jalanan melalui kegiatan-kegiatan yang bermanfaat seperti mengajarkan shalat dan mengaji, membentuk band, mengisi acara dan bantu-bantu di lingkungan sekitar (pentas), demo (melakukan aksi) menentang zionis, berbagi kepada sesama, dan membina punkers dan anak-anak jalanan untuk kembali menjadi masyarakat pada umumnya. Selain itu PM juga bermaksud mengurangi pengamen dengan membina mereka agar bekerja lebih baik lagi selain menjadi pengamen.

Sejatinya PM tetaplah ‘punk’ yang memilih jalan kebebasan dan perlawanan. Bedanya PM dengan punkers lainnya, PM menganut kebebasan namun tetap dalam koridor agama. “Bebas, ayo. Perlawanan, ayo. Demo, ayo. Tapi tetap bertanggung jawab, “sambung bang Otoy.

Sampai saat ini sekitar 30-40 PM tersebar di beberapa kota di luar Jakarta seperti Cimahi, Semarang, dan Jombang. Bahkan hingga ke Aceh. Walau sekilas seperti komunitas yang tak resmi, kepengurusan PM sendiri memiliki beberapa divisi. Mereka menyebutnya dengan ‘shaf’ yang artinya ‘barisan’. Adapun divisi dalam PM:

# Shaf Religi
#Shaf Kesenian
#Shaf Ekonomi
#Shaf Pendidikan
#Shaf Humas

Wawancara dengan bang Lutfi

Wawancara dengan bang Lutfi

Untuk pendanaan kegiatan PM sendiri berasal dari kolektif saja. PM tidak menerima santunan dari orang yang mengatasnamakan lembaga atau instansi tertentu. Hanya menerima bantuan dari donatur individu untuk pembinaan anak-anak PM. Ada juga uang kas dari anak-anak PM sendiri. Untuk pekerjaan, sebagian besar anak-anak PM berprofesi sebagai pengamen, beberapa juga membuka usaha seperti menjual helm, jaket, jasa sablon atau seperti bang Lutfi, berjualan kacang telur dan permen jahe.

Teman-teman yang telah tergabung dalam PM tentunya tak lagi beratribut punk jalanan  sepeti yang umumnya kita lihat. Dalam PM hal itu tidak diperbolehkan. Kalau boleh, pastinya anak-anak akan balik lagi menjadi punk jalanan. “Punk jangan cuma atribut. Cukup jiwa lu aja yang punk,” begitu kata bang Otoy kepada anak-anak PM lain. “Kalau ada yang memiliki tato di tubuhnya, kalau punya uang untuk menghapus tatonya, ya dihapus. Kalau nggak, sebaiknya jangan ditambah,” sambungnya. Bukan Cuma atribut atau penampilan saja yang berubah, kelakuan juga. Kebiasaan-kebiasaan buruk selama menjadi punk jalanan pun ditinggalan setelah bergabung dalam PM, seperti bang Lutfi yang bahkan merokok dan minum kopi pun tak lagi dilakukannya.

Bang Lutfi juga menjelaskan kebanyakan punkers sekarang ini hanya sekedar fashion. Di luar negeri, punk itu lebih ke musik dan style. Begitu juga di Indonesia. Hanya saja di tempat kita ini punk identik dengan anarkis, kriminal, sampah masyarakat, sehingga perlawanan dan kebebasan itu sendiri tidak lagi menjadi yang positif. Kebanyakan mengenakan  atribut dan simbol tanpa mengerti esensinya. Oleh karena itu, perlawanan lewat simbol itu sendiri menjadi tak bermakna, tak tersampaikan. Padahal atribut dan simbol anak punk memiliki makna seperti berikut,

–  Rambut mohawk: penggundulan hutan harus ditangani dengan reboisasi.
–  Warna hitam         : pergerakan bawah tanah (under ground), misterius, dan kuat.
–  Tindik di telinga  : mewariskan budaya kalimantan.
–  Kalung/rantai      : tidak ingin terikat oleh aturan dan kekuasaan. Intinya menunjukkan kebebasan.
–  Sepatu boot          : anti otoriter, anti militer/tentara.
–  Tato                       : seni.

Masyarakat di lingkungan basecamp PM sedikit pun tak merasa risih atau tak suka dengan keberadaan PM. Justru orang-orang di lingkungan tersebut tahu kalau PM itu bertujuan baik. Mereka pun merasa lingkungan tempat tinggalnya aman dengan adanya PM. “Kita berbuat juga sama masyarakat setempat, jadi masyarakat sini juga senang. Bahkan ibu-ibu di sini suka meminta kita untuk mengajari anaknya mengaji,” terang bang Otoy.

Meski demikian PM pun menghadapi kecaman dari para punk jalanan. Pernah ada yang mengatakan, ”Punk ya punk saja, muslim ya muslim saja! Tak perlu pakai embel-embel ‘Muslim’!” Kecaman ini pun nyaris menuai keributan antara PM dan punkers. Namun teman-teman PM tetap berusaha untuk tidak bertengkar dengan punkers lain dengan mengakui keberadaan punk jalanan. PM menganggap punkers ada dan menghargaii pilihan hidup mereka dengan harapan demikian pula sebaiknya, punkers mengakui dan menghargai keberadaan PM.

Kendala lainnya yang dihadapi PM, sulitnya membina anak-anak yang masih berstatus punk jalanan. Kebanyakan dari mereka tak betah dan kembali menjadi punkers, walau banyak juga yang berhasil dibina. Selain itu, belum ada rumah sebagai basecamp tetap PM, karena rumah kontrakan sebelumnya telah dijual sama yang punya. Jadi kegiatan rutin seperti pengajian sementara ditunda sampai menemukan rumah yang murah. Karena kalau kegiatan tetap berlangsung, pengurus PM bingung ingin dijamu di mana tamu-tamunya. Karena ketiadaan rumah ini pula anak-anak PM lain pun jadi berpencar, masing-masing mencari duit dengan berbagai usaha yang kebanyakan menjadi pengamen. Meski demikian ketika Maghrib tiba mereka tetap dipanggil pulang ke Gang Swadaya untuk melaksanakan shalat.

Anak punk umumnya memang berlatar belakang ketidakpedulian keluarga, terlalu ketat dalam mendidik anak, tekanan ekonomi maupun broken home sehingga membuat mereka memutuskan untuk hidup bebas di jalanan. Namun dari Punk Muslim kita bisa belajar dan mengetahui bahwa anak-anak punk juga dapat menjadi agen of change jika saja ada yang terus membimbing dan mengerahkan mereka. Kita juga mendapat pelajaran berharga, bahwa menjadi anak punk tak mesti berstigma negatif, tetapi juga bisa bersahabat dengan masyarakat dan satpol PP, seperti anak-anak PM.😉

Punk Muslim's Grafitty

Punk Muslim’s Grafitty

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s