Bang Otoy, si Anak Punk

Otoy namanya. Pemuda kelahiran 8 Februari 1983 ini terbilang pengurus Punk Muslim yang tertua. Bang Otoy ini asli orang Pandeglang, Banten. Riwayat pendidikannya hanya berujung di bangku Sekolah Dasar (SD). Sebelum menjadi pengurus PM, bang Otoy pernah mengenyam pengalaman suram dunia Punk Jalanan, punk yang kita lihat pada umumnya. Ketika kami menanyakan masa lalunya tersebut, bang Otoy sempat menolak untuk bercerita karena merasa itu aib dan masa lalu yang hendak dilupakannya. Namun akhirnya dia bercerita setelah kami yakinkan bahwa kisahnya hanya untuk dijadikan pelajaran, bukan untuk ditiru. Maka inilah kisah bang Otoy.

Tahun 1995 ketika masih kelas 6 SD, karena dorongan permasalahan ekonomi yang menghimpit keluarganya, bang Otoy mencoba peruntungan di dunia kerja. Apa yang dilakukan bang Otoy? Sepulang sekolah bang Otoy menyapu kereta api  yang berangkat dari Pandeglang. Mulailah bang Otoy hidup bekerja berpindah-pindah dari satu kereta ke kereta lain. Bang Otoy pun pernah menjadi tukang semir sepatu. Lama-kelamaan bang Otoy keenakan bekerja karena merasa dengan bekerja ia lebih mudah mendapatkan uang. Waktu itu biasanya bang Otoy diberi jajan Rp200,- saja untuk beberapa hari. Tapi dengan menyapu kereta api, bang Otoy bisa memperoleh Rp1500,- dan kata bang Otoy berpenghasilan sebesar itu sudah paling kaya di kampungnya. Karena itu bang Otoy tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang berikutnya.

Sekian lama bekerja di luar rumah otomatis membuat bang Otoy terbiasa hidup di jalanan dan mengenal banyak orang. Suatu hari ketika bekerja di kereta, bang Otoy ditegur seorang anak jalanan dan ditanya dari mana asal bang Otoy. Mulailah mereka berkenalan. Bang Otoy kemudian sering diajak nongkrong hingga lulus SD ia memutuskan untuk turun ke jalan lalu bergabung menjadi punk jalanan.

Menobatkan diri menjadi anak punk, bang Otoy pun mengubah style-nya sebagaimana punkers lain. Rambutnya pernah gondrong, dibuat rambut gimbal, pernah juga rambut panjangnya dilancipkan dan diwarnai (mohawk), telinganya pernah ditindik, memakai baju hitam-hitam dan berbagai atribut ke-punk-an lainnya. Waktu itu buat bang Otoy semua atribut yang dikenakannya hanya sebagai style saja, tidak bermakna apa-apa. Saat ditanya kenapa anak punk selalu identik dengan warna hitam, bang Otoy menjawab, “Ya kalau warna pink bukan Anak Punk dong namanya, tapi Anak Pink.” disambut gelak tawa kami.

Selama menjadi punk jalanan hidup bang Otoy sangat kacau. Bang Otoy sering nongkrong-nongkrong tak jelas, berteman dengan miras (mabuk-mabukan), malak, dan main perempuan. Bang Otoy juga pernah menggunakan narkotika. Untuk urusan yang satu ini kata bang Otoy itu tergantung duitnya, “Kalau shabu kan mahal, kalau mau murah bisa menggunakan lem, bisa juga menggunakan jamur yang digoreng sama nasi, bisa membuat mabuk selama tiga hari tuh.” Bang Otoy juga mengatakan anak-anak punk jalanan memang mencari segala sesuatu yang murah, seperti baju-baju murah dan aksesoris murah.

Ketika ditanya mengenai kekerasan fisik selama menjadi punk jalanan, bang Otoy mengatakan. “Dulu ya gue banyak luka-luka dan banyak melukai orang lain juga. Entah itu gebuk-gebukan, lempar batu, pakai bambu sampai bacok-bacokan.” Selain itu, anak punk memang jarang bahkan tak pernah mandi hingga berbulan-bulan, makanya ketika berada dalam radius bermeter-meter pun dari mereka tetap saja tercium bau yang menyengat. Pernah ada semacam tantangan, yang bertahan tidak mandi selama satu tahun akan diberi hadiah sepatu mahal dari ketua punk jalanan, padahal mereka tak pernah tahu siapa ketua punk tersebut. Bahkan terkena hujan pun tak boleh dan selalu ada yang mengawasi. Bang Otoy sendiri mengaku pernah tidak mandi selama dua bulan lalu diberi rompi.

Punk jalanan juga memiliki salam penghormatan setiap mereka bertemu. Ada yang saling mengepalkan tangan dan yang ekstrem sampai diludahi. “Gue pernah tuh, ketemu sama anak punk lain yang baru gue kenal. Pas ketemu, gue diludahin. Kaget gue. ‘Apa-apaan nih?’ gue bilang. ‘Ini salam hormat, Bro!’ katanya. Ya gue ludahin balik dia.”

Keluarga bang Otoy sendiri masih tinggal di Pandeglang dan tidak pernah tahu kalau bang Otoy telah menjadi anak punk, karena bang Otoy jarang pulang ke rumah. Yang mereka tahu hanyalah bang Otoy mencari kerja di Jakarta. Pandangan masyarakat terhadap punkers jalanan pun membuat bang Otoy dan kawan-kawan menyingkir dari lingkungan orang-orang pada umumnya. Stigma premanisme, kriminal, anarkis, jorok, dan bau busuk sudah melekat pada anak-anak punk di mata masyarakat. “Orang-orang memandang anak-anak punk kayak buang sampah; jijik. Buat kita sih gak masalah. Yang penting mereka gak ganggu kita ya kita juga gak buat masalah sama mereka. Mereka risih, kita juga risih sama orang-orang yang bersih,” begitu kata bang Otoy. Karena itulah punkers jalanan nongkrong di tempat-tempat yang jauh dari masyarakat, tinggal di kolong-kolong jembatan, tidur di gerbng-gerbong kereta yang tidak terpakai lagi, atau di bangunan-bangunan tua, yang penting jauh dari masyarakat.

Makna punk itu sendiri bagi bang Otoy, “Punk itu antipemerintah dan antimedia. Punk bermakna kebebasan, bebas tanpa ada aturan, tanpa ada larangan. Punk juga bermakna perlawanan terhadap pemerintah yang tidak prorakyat.”

Tahun 2006 bang Otoy bertemu dengan Alm. Budi, penggagas Punk Muslim (PM). Bang Otoy pun diajak bergabung dalam komunitas PM. Awalnya bang Otoy menolak, “Gak ah, gue gak mau bawa  embel-embel, apalagi agama.” Tapi Alm. Budi meyakinkannya, “Ah lu, masa’ mau yang buruk-buruk terus. Gak apa bosen lu? Berubah donk ke arah yang lebih baik. Lu ngakunya muslim, tapi kagak bisa solat sama ngaji.”

Akhirnya bang Otoy bergabung dengan PM yang bermarkas di dekat terminal Pulo Gadung. Bang Otoy diajari solat dan mengaji oleh Alm. Budi. Penampilan bang Otoy pun tidak seperti ketika dia menjadi punk jalanan lagi. Tato dihapus. Bahkan lubang bekas tindik di telinganya sudah tertutup. Bang Otoy mulai meninggalkan dunia punk jalanan beserta keburukan yang pernah dilakukannya. Bang Otoy insaf, mulai menyadari bahwa hidup hanya sementara, masih ada kehidupan yang lebih kekal nantinya, sedangkan dia belum memiliki bekal untuk akhirat kelak. Alm. Budi juga mengajarkan bang Otoy betapa pentingnya hidup untuk sesama. “Gue pengen berbuat banyak untuk orang lain. Walaupun miskin tapi tetap berbagi.” Maka sepeninggal Alm. Budi ang Otoy dan kawan-kawan meneruskan perjuangan PM. Bang Otoy juga mengajarkan apa yang dia dapat  kepada anak-anak punk jalanan lainnya.

Sekarang bang Otoy sudah menikah dan dikaruniai seorang anak. Lihat saja baju yang dipakai bang Otoy bergambarkan dirinya bersama istri dan anak tercinta. Meskipun sekarang masih berprofesi sebagai pengamen, bang Otoy tak pernah putus harapan. “Gue mau pensiun jadi anak punk, mau jadi masyarakat biasa saja.”

“Masyarakat biasa maksudnya, Bang?” tanya Rara.

“Ya seperti kalian ini. Hidup normal kayak orang-orang pada umumnya. Gue pengen dapet kerja yang lebih baik, berpenghasilan, hidup bersama keluarga, tenang beribadah, lalu mati deh baek-baek,” begitu kata bang Otoy.

Bang Otoy juga berharap agar PM tidak mati karena PM merupakan ladang pahala. Bang Otoy sudah berpesan sama anak-anak PM lainnya, “Lu kan udah gue ajarin, nah lu ajarin juga tuh ke anak-anak yang lain. Jangan sampai putus di elu. Kalau ada apa-apa jangan cari gue lagi. Kalau mau bikin acara ya gue bantu. Tapi kalau turun ke jalan, gak lagi. Gue udah capek.”

Demikianlah kisah bang Otoy. Setiap individu, setiap kehidupan masyarakat pasti memiliki sisi lain yang mungkin belum kita ketahui. Dari perjalanan hidup bang Otoy ini semoga kita dapat memetik pelajaran berharga untuk kehidupan kita yang lebih baik.

Kata bang Otoy, satu telunjuk yang mengacung ini simbol Punk Muslim. Maknanya, Tuhan Maha Esa. ;)

Kata bang Otoy, satu telunjuk yang mengacung ini simbol Punk Muslim. Maknanya, Tuhan Maha Esa.😉

Ditulis untuk memenuhi tugas mata kuliah Teknik Komunikasi dan Bermasyarakat dengan tema Konformitas dan Penyimpangan.

Penulis: Dwina
Responden: Bang Otoy

Interviewer: Dwina, Reza, Rara
Hari, Tanggal: Rabu, 2 Januari 2012

Lokasi: Gg. Swadaya, Terminal Pulo Gadung, Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s