๑۩۞۩๑ Wonderful Land ๑۩۞۩๑ Tour to Samosir Island, Toba Lake ๑۩۞۩๑

Liburan kali ini menjadi unforgetable holiday buatku. Soalnya keinginanku untuk menginjakkan kaki di objek wisata yang satu ini akhirnya terwujud! Horay! *Menari Dora the Explorer* I am really really really excited, Guys! :D

Para personil Tour to Wonderful Land kali ini adalah aku, bang Runal, Juhar, Grace, Amudi dan Flora. Jalan-jalan ini sudah kami rencanakan sebulan yang lalu. Sesampainya di Medan kami mulai membicarakan berbagai persiapan dan menyusun rute objek-objek wisata yang akan kami kunjungi di sana. Hasil rapat memutuskan bahwa bang Runal menjadi Supir 1, Amudi menjadi Supir 2 sekaligus tour guide karena dia memang tinggal di Pulau Samosir, Juhar menjadi fotografer karena cuma dia yang bawa kamera dan dia memang tidak bisa menyetir, dan kami para wanita tenang-tenang saja. Hahahaha…😀 Aku akan menunjukkan banyak foto saja, karena kalau diceritakan satu per satu terlalu panjang nanti😉 . Okay, this is about our journey…

Tengah malam kami sudah berkumpul karena berencana berangkat pagi-pagi buta. Pada pukul tiga pagi jalanan lebih sepi dibandingkan malam atau siang hari. Tujuannya agar kami dapat mengunjungi banyak tempat dalam satu hari. Selain itu agar ketika kami tiba di Parapat, matahari sudah terbit dan kami bisa menyeberang ke Pulau Samosir menaiki kapal feri penyeberangan pertama. Karena perjalanan yang dilalui cukup panjang, jangan lupa mempersiapkan fisik supaya tetap fit dan enjoy. Karena itu sambil menunggu pagi kami minum bandrek susu dan makan roti. Sekalian menghangatkan badan.

The first appearance of the Toba Lake

The first appearance of the Toba Lake

Sekitar pukul 03.30 kami berangkat melewati kota Tebing Tinggi dan Pematang Siantar. Selama diperjalanan menuju Parapat semua personil tertidur pulas. Cuma Supir 1, yang terpaksa melek.

Pukul 06.30 kami tiba di Parapat. Medan-Parapat ditempuh hanya dalam waktu tiga jam. Lalu… Taddaaa~.

Kami pun behenti sejenak, cuci muka dan menikmati udara pagi yang sejuk. Brrrr… Sudah mulai terasa dinginnya Parapat. Lihat saja suasananya masih berkabut. Oya, kami melihat banyak monyet juga di sini😀 .

Can you see the monkeys in the trees and power lines?

Can you see the monkeys on the trees and power lines?

Danau Toba merupakan danau vulkanik yang terjadi saat ada ledakan gunung berapi pada 69.000 – 77.000 tahun lalu, diperkirakan juga sebagai salah satu ledakan gunung berapi terbesar di dunia. Setelah letusan tersebut, terbentuk kaldera yang kemudian terisi oleh air dan sekarang dikenal sebagai Danau Toba. Tekanan ke atas oleh magma yang belum keluar menyebabkan munculnya Pulau Samosir. Selengkapnya, klik –> Wikipedia.

Kami lalu melanjutkan perjalanan memasuki pusat kota Parapat. Sambil menunggu waktu penyeberangan dengan kapal feri, kami menepi lagi. Kali ini benar-benar di tepi Danau Tobanya. Di sini kalian bisa menyewa sepeda air atau menaiki perahu kecil sekedar mengitari Danau Toba dan menikmati pemandangan Kota Parapat. Indah, bukan? Ini belum seberapa, Kawan. Masih banyak pemandangan yang lebih bagus lagi!

Morning in Parapat

Morning in Parapat

Setelah berkeliling-keliling sejenak di Parapat, kami lalu menuju Pelabuhan Ajibata untuk menyeberangi Danau Toba menuju Pulau Samosir. Penyeberangan pertama menggunakan kapal feri sudah dibuka. Untuk satu mobil, dikenakan tarif Rp95.000,-. Tapi untuk orang-orangnya tidak perlu membayar lagi. Kapal feri ini bisa memuat banyak mobil dan truk. Lihat saja betapa luasnya geladak kapal ini.

Preparation for Crossing The Lake

Preparation for Crossing The Lake at Ajibata Harbor

Pemandangan di sini juga sangat bagus!

I think this place is also suitable for the pre wedding photos, hahaha...

I think this place is also suitable for the pre wedding photos, hahaha…😛

Setelah sekitar satu jam, kami pun tiba di dermaga Tomok, Pulau Samosir dan langsung sarapan. Lapar sekali… >,< . Bagi para muslim, tenang saja, tidak sulit menemukan rumah makan halal di sini😉 .

Hoaaa kenyang! Mari kita lanjutkan perjalanan. Desa Tomok merupakan daerah yang menjadi pintu gerbang Pulau Samosir. Di Tomok banyak terdapat situs-situs kebudayaan Batak yang dapat dikunjungi juga terdapat kios-kios tempat penjualan suvenir, benda-benda dan pakaian khas Toba. Jadi, kita bisa membeli oleh-oleh di sini.

Atmosphere in Tomok Village

Atmosphere in Tomok Village

Nah, kalau tugu berwarna putih berbentuk melingkar ini namanya Tugu Selamat Datang Tomok. Ketika kita menyeberang dari Parapat ke Pulau Samosir (Tomok) dan melihat tugu ini, berarti sesaat lagi kapal akan bersandar di Pelabuhan Tomok. Ada kapal yang bersandar tepat di depan tugu, tapi ada juga yang bersandar beberapa puluh meter di sebelah kanan mapun kiri tugu. Dermaga di Pelabuhan Tomok memang tidak berkumpul menjadi satu. Kalau menyeberang menggunakan feri seperti kami tadi, kapal feri merapat bukan di dermaga yang letaknya tepat di depan tugu ini. Di sisi tugu ini juga terdapat peta Pulau Samosir. Posisi tugu ini tepat di tepi Danau Toba, sehingga agak menyulitkan kita untuk mengambil gambar keseluruhan tugu ini.

Tugu Selamat Datang Tomok memiliki warna asli seperti bangunan khas batak lainnya yaitu kombinasi antara putih, merah, dan hitam. Tapi karena warna merah dan hitamnya sudah luntur, jadi warna putihnya begitu mendominasi. Pada bagian puncak tugu terdapat pahatan seperti wajah. Untuk menyangga pahatan wajah itu terdapat tiga buah pilar dengan ornamen yang mirip dengan pahatan wajah di atasnya. Ornamen cicak juga tidak ketinggalan ada disini. Sementara itu untuk bagian bawahnya berbentuk lingkaran. Pada dinding bawah ini terdapat pahatan-pahatan berbagai macam suku batak antara lain Batak Karo, Batak Pakpak-Dairi, Batak Simalungun, Batak Angkola, Batak Mandailing, dan Batak Toba lengkap dengan pakaian adatnya masing-masing.

Toba's Couple

Tomok Welcome Monument

Huta Siallagan (Siallagan Village)

Huta Siallagan (Siallagan Village)

Next, melewati Tuk Tuk, kami menuju Desa Ambarita. Pemandangan indah di kiri kanan jalan menemani perjalanan kami. Di sini kami mengunjungi salah satu huta (kampung) kebudayaan Batak, namanya Huta Siallagan. Di huta ini kita bisa melihat berbagai benda-benda bersejarah, batu meja kursi untuk parsidangan, dan makam raja. Ada pemandunya juga yang akan menceritakan sejarah Huta Siallagan baik dengan Bahasa Inggris maupun Bahasa Batak. Ya, di sini masyarakatnya memang kebanyakan menggunakan dua bahasa itu saja -,-.

Historic Objects in Huta Siallagan

Historic Objects in Huta Siallagan

The Punishment Place

The Punishment Place

The Tomb of The Royal

The Royal Siallagan Monument

The White Sand Beach

The White Sand Beach

Lanjut! Hari sudah siang, matahari cukup terik menyinari daratan Samosir. Kami menuju Pantai Pasir Putih di Desa Parbaba. Pantai ini dekat sekali dengan rumah Amudi. Wait, biasanya yang kita tahu pantai itu pertemuan daratan dan lautan, kan. Tapi ini, danau memiliki pantai? Unik bukan! Yup, pantai ini tak ubahnya pantai biasa, punya pasir, pepohonan, dan tentu saja bisa merasakan bagaimana berenang di Danau Toba dari pantai ini. Bedanya, tidak ada ombak besar dan tentu saja airnya tidak asin! Hahaha… I do love beach! So, it’s time to swim! Horray! 😀

Camera Bag, Three Glassess and a Bottle of Drink

Camera Bag, Three Glasses and a Bottle of Drink

Lumayan habis berenang tidak gerah lagi. Perjalanan masih terus berlanjut. Kami mengitari hampir seluruh pelosok Samosir. Karena Samosir dikelilingi Danau Toba, kami dapat melihat keindahan Danau Toba dari berbagai sudut yang berbeda. Kadang Danau Toba terlihat abu-abu, hijau, dan biru. Seperti pada foto berikut ini, Danau Toba benar-benar indah! Tak heran danau ini juga dijuluki danau beraneka warna, karena satiap sudut pandang yang berbeda memperlihatkan warna danau yang berbeda pula!

The Blue Toba Lake

The Blue Toba Lake

Belum cukup puas menikmati birunya Danau Toba, kami harus segera menuju tempat tujuan selanjutnya. Yup, Danau Sidihoni. Apa? Di Pulau Samosir ada danau? Iya, Kawan. Unik dan benar-benar menarik! Kalau Samosir mendapat julukan ‘pulau di atas pulau’, maka danau ini adalah ‘danau di atas danau’. Di sini pemandangannya sangat sangat sangat bagus! Lihat saja hamparan danau dan langit yang biru, rumput yang luas, hewan-hewan ternak yang memang digembalakan pemiliknya di sini. Selain itu, danau ini juga ada ikannya. Penduduk memancing ikan dari danau ini untuk kebutuhan makan sehari-hari ataupun di jual. Oya, konon katanya danau ini juga bisa berubah warna sesuai dengan kejadian-kejadian yang sedang terjadi.

Sidihoni Lake, The 'Lake on The Lake'

Sidihoni Lake, The ‘Lake on The Lake’

Kalau versiku sendiri, lebih suka menyebut tempat ini ‘New Zaeland in Samosir’. Soalnya seperti lahan-lahan peternakan di New Zaeland atau di Eropa.😉

I tried to take a portrait orientation,

Juhar and Grace

Juhar and Grace

Sudah berapa tempat tadi yang kami kunjungi? Masih ada lagi… Menjelang sore udara di sini semakin sejuk seperti pagi hari tadi, apalagi tempat yang akan kami kunjungi kali ini berada di daerah yang paling tinggi. Jalanan berkelok-kelok seperti jalan di pegunungan pada umumnya. Sesekali kami menyapa turis-turis asing yang bersepeda atau engendarai sepeda motor di sini. Kata Amudi, banyak wisatawan asing yang menetap di Samosir ini, bahkan mereka menikan dangan penduduk pribumi dan memiliki villa ataupun resort. Sepanjang jalan pemandangan indah tak bosan-bosannya menemani. Kalau tadi kebanyakan pemandangan Danau Toba kali ini pegunungan, hamparan sawah, dan pepohonan yang mendominasi. Dari dalam mobil aku mengambil gambarnya. Kalau tadi pagi ada monyet di Parapat, sore ini ada sekawanan burung putih yang sedang bertengger di atas pohon!

See... so many white birds in the left picture.

See… so many white birds in the left picture.

Semakin tinggi tempat yang kami lalui, semakin dingin pula udaranya. Brrrrrrr… Sungguh dingin seperti ketika aku berada di puncak gunung waktu pendakian! Kami pun sampai di Tele, daerah yang memiliki hutan, dikelilingi pegunungan, dan merupakan salah satu puncak tertinggi  di Samosir. Di sini ada sebuah menara. Dari Menara Tele ini kita dapat melihat pemandangan tak kalah bagusnya dari yang sebelumnya tadi. Kita dapat melihat daratan Pulau Samosir dan Danau Toba sekaligus!

View from The Summit of Tele

View from The Summit of Tele

Setelah  mengunjungi Menara Tele, kami makan dan bersiap-siap untuk pulang karena sudah sore. Kami mulai kelelahan padahal sebenarnya masih ingin singgah di Berastagi karena kami pulang melewati jalur yang berbeda dengan keberangkatan tadi. Kami keluar dari Pulau Samosir melalui Pangururan, daerah yang menghubungkan Pulau Samosir dan Pulau Sumatera. Jadi kami tidak menggunakan kapal feri lagi. Petang pun menyelimuti Samosir, menemani kepulangan kami.

Samosir Evening Sky

Samosir Evening Sky

Perjalanan yang menyenangkan dan tak akan terlupakan! Sungguh, Danau Toba dan Pulau Samosir adalah tempat yang sangat indah dan menyenangkan, juga surganya fotografi! Sampai jumpa lagi Toba Samosir… Someday, I will be back here! 😉

Tour to Wondeful Land in One Day:

Medan – Tebing Tinggi – Pematang Siantar – Parapat – Tomok – Tuktuk – Ambarita – Pantai Pasir Putih  – Tele – Pangururan – Sidikalang – Kabanjahe – Berastagi – and back to Medan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s