Sungsang [Pecakapan Tiga Wanita]

Suatu malam di sebuah rumah, seorang ibu bersama kedua anak gadisnya sedang bersantai di ruang keluarga. Si anak perempuan yang kedua sedang berjalan ke sana ke mari. Tak jelas entah apa yang sedang dilakukannya. Sedangkan si anak perempuan yang pertama sedang memijat-mijat bahu sang ibu. Dia kemudian teringat banyak orang yang bilang kalau orang yang lahirnya sungsang itu enak pijatannya. Dia juga teringat dulu ibunya pernah bilang kalau ia terlahir sungsang. Dan percakapan itu pun dimulai…

“Mak, aku dulu lahir sungsang, kan?” tanya si anak perempuan yang pertama, memastikan lagi.

“Iya, sebelum keluar di lihat sama bidan kok yang terlihat malah putih-putih gitu, biasanya kan hitam dulu dari warna rambutnya karena kepala dulu,” si ibu langsung berkisah. “Ternyata yang pertama keluar juga bukan kakinya, tapi *maaf* pantatnya!”

“Apppaaa???” si anak perempuan yang pertama shock berat. Selama ini yang dia tahu hanya dia terlahir sungsang. Itu saja. “Seriuslah, Mak?” si anak perempuan yang pertama mulai menyadari ternyata prosesi kelahirannya lebih kacau dari yang ia bayangkan sebelumnya.

“Hahahaha…” Si anak perempuan yang kedua pun ketawa ngakak.

“Iya,” jawab si emak. “Udah gitu kecil pula tuh, cuma 2,8 kilo. Semua kalian (anak-anak Mamak) rata-rata lahir beratnya segitu. Gampang kali ngelahirkannya, kayak ngeluarin e’ek aja. Tinggal ‘eek’, langsung keluar.”

Ya ampun… Emak gue ekspresif banget nyeritainnya, dalam hati si anak perempuan yang pertama.

“Kalo aku gimana, Mak?” si anak perempuan yang kedua ikutan bertanya.

“Kau lagi… Dulu kan lahir di kamar yang masih sempit. Tempat tidur mamak kandas ke dinding. Pas lahirin kau entah karena terlalu kuat atau apa tau-tau kau udah keluar aja dan kepalamu langsung kejedot dinding.”

“Huahahahaha…” gantian si anak perempuan yang kedua yang ketawa lebih ngakak.

Si anak perempuan yang kedua cuma mesem-mesem aja terus bilang sama kakaknya, “Iya la kak, sampe sekarang bagian atas kepalaku ini kalo ditakan-tekan terasa agak sakit,” sambil mencet-mencet kepalanya sendiri.

“Iya?” tanya si kakak.

“Iya…”

Dan malam itu terus bergulir, menyaksikan ketiga wanita itu kembali bercakap-cakap, memecah kesunyian di rumah mungil mereka.

Rantauprapat, Agustus 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s