Madun dan Si Pengamen Kecil

Weekend kemaren, kuputuskan ke rumah kak Utet, istri dari abang sepupuku yang sedang bekerja di Kalimantan. Selain karena aku memang sering main ka sana, abang juga sudah berpesan agar aku sering-sering menemani kak Utet yang sedang hamil tua. Rencananya sih sampai Minggu sore. Tapi aku dapat SMS dari si Jessi, minta lesin Ekonomi jam 2 siang, hari Minggu. Akhirnya aku pamitan sama Ibu (mamahnya kak Utet) jam 1.

Seperti pulang ke kostan, aku naik metromini 506 dari Pondok Kopi ke Kampung Melayu. Lalu naik angkot 16 ke arah Kebon Pala. Harus muter-muter dulu jadinya -__-. Sampainya di metromini, ku dapati sang kernet adalah seorang anak laki-laki, kira-kira usia 10 tahunan. Dia pun berteriak-teriak mengundang penumpang, “Ayo Pak, Bu! Melayu, Melayu, Melayu!”. Aku pun naik. Ku lihat hari itu penumpang agak sepi. Kuambil posisi agak di belakang. Agar lebih rileks menelusuri Ibukota, kukeluarkan bola-bola cokelat dari tasku. Lalu kukunyah sambil melihat-lihat ke luar jendela. Metromini pun berjalan…

Si Pengamen Kecil

Sang Kernet Kecil pun ambil posisi berdiri di pintu bekalang sambil terus berteriak,”Ayo, ayo , ayo! Melayu, Melayu, Melayu!”. Satu dua penumpang mengisi metromini, disusul naiknya seorang pengamen kecil, laki-laki, seumuran Si Kernet Kecil. Adik Pengamen itu lalu berdiri dihadapan para penumpang, bersiap untuk perform. Lalu dia bernyanyi. Aku tak tahu lagu apa. Entah memang direktori judul lagu di otakku yang sedikit atau aku yang kurang cermat mendengarkannya. Karena justru yang ku cermati adalah Si Adik Pengamen itu sendiri. Dan yang pasti, dia bernyanyi tanpa alat musik apapun. Hanya dengan bertepuk tangan.

Selesai bernyanyi, diulurkannya telapak tangan kanannya kepada para penumpang, berharap telapak tangan itu bakal dihiasi dengan duit, walaupun itu receh. Ternyata dia melewatiku. Mungkin tak sadar kalau dia belum mengulurkan tangannya padaku. Kucolek saja pundaknya. Kuberikan selembar dua ribuan. Dia agak kaget dan bengong. Lalu dia ngobrol sama Si Kernet Kecil. Sepertiya mereka berteman. Masih kuperhatikan Adik Pengamen itu. Sesekali dia menatapku juga, tampangnya heran dan polos. Ku ulurkan bola-bola cokelat padanya. Dia hanya menggeleng. Kutawarkan sekali lagi. Tetap menggeleng.

Setelah ngobrol dengan Si Kernet Kecil, dia duduk di belakang, menghitung hasil ngamennya barusan. Aku lalu pindah ke bangku paling belakang. Ku keluarkan sebungkus Cheetos dari tasku. Ku tawarkan pada mereka berdua, “Dek, nih buat kalian.” Keduanya malah saling bertatapan. Si Pengamen Kecil menaikkan dagunya ke Si Kernet Kecil, seolah mengatakan, ‘Ambil tuh!’

Metromini berhenti. Ternyata Si Pengamen Kecil turun. Dia berlalu begitu saja. Ku tawarkan lagi Cheetos pada Si Kernet Kecil. Lalu terjadi percakapan singkat di antara kami.

“Nih, Dek. Ambil aja.”

“Nggak Mbak. Udah kenyang.”

“Udah kenyang?”

Madun, Namamu

“Iya, udah makan tadi.”

“Makan apa?”

“Makan @#$%^&*, makan (*&%#^#…” (Suara Si Kernet Kecil tersaingi bisingnya lalu lintas.)

“Ooo… (Sok tau). Ya udah, simpan aja buat ntar.”

“Makasi ya, Mbak.” (Menerima Cheetosku.😀 Lalu menyimpannya di balik pintu)

“Nama lo siapa?”

“Madun, Mbak.”

“Ooo… Madun… Lo sekolah gak, ‘Dun?”

“Sekolah lah…”

“Kelas berapa?”

“Kelas dua.”

“Mau naik kelas tiga donk, lo?”

“Iya, Mbak. Oya, Mbak turun di mana?”

“Melayu, terakhir.”

Gak terasa udah nyampe Melayu.

“Gue duluan ya, ‘Dun!”

“Iye, Mbak. Makasi ya Mbak…”

“Yup!”

Aku pun turu, bergegas mencari angkot 16. Ternyata si Madun ‘bunyi’ lagi, “Hati-hati, Mbak!” teriaknya.

Mungkin sudah menjadi hal yang biasa, menemukan anak-anak seperti mereka di Ibukota ini. Tak perlu ku urai panjang lebar di sini, tentang sebab-akibat dari keberadaan mereka, para anak jalanan. Ku rasa sudah banyak forum, tulisan, debat dan sebagainya yang membahas itu. Bagiku, intinya adalah melihat mereka aku selalu teringat dengan adik laki-lakiku di kampung. Adikku yang paling kecil, masih SD juga. Tak terbayangkan olehku, gimana kalau adikku berada di posisi mereka. Dan melihat wajah mereka rasanya ingin kucubit, kupeluk, kucium, seperti yang sering kulakukan pada adikku. Namun aku hanya bisa menatap dan berusaha memperlakukan mereka seperti adik kandungku sendiri. Walau hanya dengan memberikan selembar uang dua ribuan ataupun sebungkus Cheetos.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s