Mungkin bagi Kalian Ini Hal yang Biasa, tapi bagiku Ini adalah Suatu Pencapaian

Emang apaan sih? Dari judulnya kok kayaknya ada something yang ‘hebat’ banget. Hahaha… Gak kok, judulnya aja yang lebay #Hellooow yang buat judul siapa coba? -___-“

Ehm, jadi begini ceritanya. Hari ini Minggu, 3 Juni 2012, aku ngajar les privat Matematika dari pukul 13.30 s.d. 21.00. Apa??? Gak ‘coyo? Iya, 7,5 jam nonstop! Cuma break buat sholat doank. Makan aja sambil mantengin si Adek garap soal-soal.

Sedikit flashback, sejarah ketika aku (akhirnya) bisa dapat job ngajar privat yang udah lama aku impikan #layar jadi hitam putih dan terdengar dentuman lagu ‘Maju tak Gentar’. Iya, untuk mengisi kekosongan waktu di sela-sela jadwal kuliahku yang semakin-merenggang-akibat-udah-semester-atas #eaaa, akhir tahun lalu aku pun memutuskan menerima tawaran mbak Aish (satu kosan aku) untuk menggantikannya ngajar privat. Berhubung yang bersangkutan lagi menikmati masa lajang #eh, magangnya di BPS Pusat, jadi doi gak punya waktu lagi buat ngelesin. Awalnya sih, cuma gantiin doank… Lama-lama mbak Aish bilang, “Aku kan gak mahasiswa lagi. Gajiku di BPS Pusat lebih banyak dari Tunjangan Ikatan Dinas kalian di STIS! Tuh, muridku buatmu aja!” Halah, ga segitu amet kok =,=”. Kalo ditanya honornya sih… ya… lumayanlah… #elus-elusdagu #songong. Lagian biasalah anak kos, suka cari sampingan… Kerjaan sampingan, makanan sampingan, pacar sampingan

Back to today. Alkisah di suatu perumahan elit di Jatinegara -tepatnya di daerah Kebon Pala-, tersebutlah seorang puteri nan cantik jelita turunan Chinese bernama Jessica Haryanto. Seorang siswi SMAK Penabur Kelas XI-IPS yang mau-maunya jadi murid-privat-pertamaku dan satu-satunya (paling gak sampai saat ini). Minggu ini si Jessi harus bertarung menghadapi sesuatu yang akupun-‘eneg’-menyebutkannya-di-blogku-tercinta-ini. Baiklah, Ujian Akhir Semester. Jadi dia sedang getol-getolnya minta dilesin, makanya aku agak sering ke rumahnya akhir-akhir ini.

Dan puncaknya adalah hari ini. Tepat pukul 13.30 aku sampai di lantai dua rumahnya, tempat aku, dia dan Matematika habiskan waktu bersama. Ternyata Jessi belum nongol. Yang ada hanyalah sesosok cowok plus senyuman nyengir dan tentunya aku tahu siapa dia. Aku balas juga dengan senyuman yang tak kalah ‘nyengir’nya. Padahal dalam hati pengen banget nonjok cowok yang udah ngambil sebagian jobku ini. Ceritanya beberapa bulan yang lalu selain ngelesin Jessi, aku juga ngelesin Jerry, adik laki-lakinya Jessi yang masih SMP. Lalu suatu ketika aku pulang kampung, si Jessi nge-sms, minta aku lesin si Jerry. Pastinya aku gak bisa donk. Rantauprapat-Jakarta kan gak bisa ditempuh naek odong-odong. Alhasil, ketika ngajar si Jessi berikutnya, aku mendapatkan kenyataan bahwa si Jerry mengkhianatiku. Dia berpaling pada guru nyengir itu TT_TT. Makanya, sampai sekarang bawaannya masih kayak liat rendang aja kalo ketemu cowok itu. “Ya sudahlah,” kata Bondan FTB. Rezeki gak kemana kok…

Lupakan tentang si cowok nyengir! Si Jessi pun nongol. Aku, dia dan Matematika akhirnya duduk tentram setelah Jerry dan guru nyengirnya itu turun ke lantai satu. Rebutan tempat belajar nih ceritanya. Dan aku sukses merampas lapak lantai dua, padahal baru dateng, hahaha😀 #tertawa horor. Awalnya aku kira bakal dua sesi doank seperti biasa (satu sesi=1,5 jam). Menjelang sore, si Jessi bilang, “Kak, kayaknya ini sampai malem, deh.” Aku hanya menjawab sekenanya, “Oh, oke.Gak pa pa kok.” Emang aku gak ada kegiatan juga sih. Dan aku enjoy aja karena ini memang salah satu kegiatan yang kusukai. With teaching, we can learn and teach🙂 .

7,5 jam nonstop adalah waktu yang amazing buatku. Bisa dikatakan ini adala sebuah record waktu terlama belajar maupun mengajar sepanjang hidupku. Seperti yang kutulis di judul tulisan ini, mungkin bagi kalian ini hal yang biasa, tapi bagiku ini adalah suatu pencapaian. Dan bagiku ini bukan pencapain buat pribadiku saja, tapi juga buat Jessi. Dalam hal belajar, aku salut akan ketekunannya dalam menghadapi UAS ini. Dia makan roti mari sambil mantengin soal yang aku ajarin, makan nasi sambil liat aku pusing coba nyelesain soal sulit yang dia gak tahu, makan salak dan anggur sambil liat aku yang lama-kelamaan udah kayak ‘hidup segan mati tak mau’. Dan dia gak pernah bagi-bagi makanannya sama aku. Oke, bukan begitu inti ceritanya. Jadi melihat ketekunan si Jessi ini aku mencoba membandingkannya sama diriku sendiri. Kalo dengan diriku yang masih SMA dulu yah, bisa dibilang hampir samalah #songong lagi. Karena di SMA-ku dulu pun murid-muridnya diforsir untuk belajar. Namun jika dibandingkan dengan diriku yang sekarang… Jangan tanya deh! UTS kek, UAS kek, sama aja kayak hari biasa. Boro-boro SKS-an (Sistem Kebut Semalam), paling-paling belajar beberapa jam mau masuk Ujian. Swear , deh! Aku gak ngelebih-lebihin ataupun mau pencitraan. Kuakui, entah kenapa aku emang mulai eneg sama yang namanya ‘ujian’. Bukan cuma itu, rasanya semangat belajarku pun mulai mengendur. Pengen cepet-cepet megang toga aja. Padahal untuk sampai ke titik itu juga dibutuhkan perjuangan yang ‘tak biasa-biasa’ saja, setidaknya demikian di kampusku.

Jadi dengan ngajarin si Jessi 7,5 jam hari ini, ‘setidaknya’ aku juga ‘belajar’. Belajar soal-soal Matematika lagi, belajar dari ketekunan si Jessi, belajar tentang kesabaran (ternyata begini rasanya jadi pengajar, ngajarin hal yang sama alias itu-itu saja dan dalam waktu yang lama) dan belajar bagaimana mencintai pekerjaan atau profesi. Bukankah melakukan segala sesuatu hal yang kita sukai itu sangat menyenangkan? Dan hasilnya pasti memuaskan. Karena kita melakukannya dengan tulus.

Soal rezeki, emang bener kok, rezeki gak kemana. Bila aku memandang dari sisi ini, baguskan! Aku jadi bisa nabung, nambah uang jajan, beli barang-barang yang aku pengen dengan hasil keringat sendiri… Artinya keinginanku untuk mandiri, berusaha nggak minta kiriman dari Ayah, dipermudah oleh Allah SWT! Tunjangan Ikatan Dinas dari kampus ditambah honor les privat ini bisa semakin meringankan beban orang tuaku. Beruntung aku kuliah dibiayai pemerintah. Kalo bisa pake ‘otak’, kenapa mesti pake ‘duit’? Dan dalam hal ini bukan aku menyepelekan kondisi finansial keluargaku, tapi bagiku, kuliah, makan, hidup di perantauan dengan biaya yang dihasilkan sendiri itu ‘sesuatu’ banget. Karena rasanya ada kepuasan tersendiri yang tak terlukiskan. Barangkali seperti meneguk setetes air sejuk di tengah gurun pasir, barangkali. Suatu pencapaian, bukan? #sekali lagi, setidaknya bagiku.

Okay, enough for now. Kalo diterusin bisa-bisa kepanjangan nih ntar. Ambil positifnya aja ya, Guys!😀

Regards

The Wina

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s