Jurnalistik sebagai Penyangga Peranan Mahasiswa

Hidup adalah kreativitas. Sepertinya kalimat tersebut cukup sederhana dan tidak terlalu ilmiah, namun mempunyai makna yang mendalam bahwa hidup jangan cuma diam dan monoton tanpa ada perubahan ke arah yang positif. Life is change. Begitu juga bagi teman-teman mahasiswa. Jika dunia perkuliahan hanya dijalani dengan kuliah, balajar, makan dan tidur, tentu sangat membosankan.
Mahasiswa sebagai orang-orang yang berada di jenjang pendidikan tertinggi mempunyai kedudukan lebih di masyarakat. Selain penuntut ilmu, mahasiswa merupakan gudang kreativitas, penyalur aspirasi rakyat, pemilik ide-ide yang membangun, dan kritisi yang berkualitas. Tetapi pada kenyataannya kebanyakan mahasiswa zaman sekarang hanya berorientasi pada keberhasilan di dunia kerja. Lalu apa hubungannya dengan jurnalistik?
Sekilas tentang jurnalistik, definisi jurnalistik sangat banyak. Namun pada hakekatnya adalah sama. Para tokoh komunikasi atau tokoh jurnalistik memberikan definisi yang berbeda-beda. Secara harfiah, jurnalistik (journalistic) artinya kewartawanan atau hal-ihwal pemberitaan. Kata dasarnya “jurnal” (journal), artinya laporan atau catatan, atau “jour” dalam bahasa Prancis yang berarti “hari” (day) atau “catatan harian” (diary). Dalam bahasa Belanda “journalistiek” artinya penyiaran catatan harian. Menurut kamus, jurnalistik diartikan sebagai kegiatan untuk menyiapkan, mengedit, dan menulis surat kabar, majalah, atau media berkala lainnya. Dalam jurnalistik harus ada unsur kesegaran waktu (timeliness atau aktualitas). Aktivitas utama dalam jurnalistik adalah pelaporan kejadian dengan menyatakan siapa, apa, kapan, di mana, mengapa dan bagaimana (dalam bahasa Inggris dikenal dengan 5W+1H) dan juga menjelaskan kepentingan dan akibat dari kejadian atau trend.
Tanpa disadari setiap harinya semua orang berhadapan dengan jurnalistik, seperti menyaksikan berita di televisi, membaca novel, majalah dan artikel dalam surat kabar atau sekedar melihat-lihat mading di kampus. Menikmati berbagai produk jurnalistik tersebut menjadikan hari-hari yang melelahkan terasa lebih berwarna. Namun tidak semua orang mengetahui bagaimana semua itu sampai di depan mata, terutama bagi mahasiswa. Menjadi konsumen bagi output jurnalistik adalah hal yang biasa. Tetapi menjadi bagian dari behind the scene jurnalistik bukan perkara yang mudah, semudah menikmatinya. Hal itulah yang sekarang kurang dimiliki mahasiswa, sehingga eksistensinya mulai meleset dari peranan yang semestinya.
Bila diamati mahasiswa itu cenderung suka berbicara alias ngomong doang ketimbang berbuat atau paling tidak menyalurkan kreativitas dan aspirasinya melalui bentuk nyata. Orang yang verbalnya baik belum tentu pintar menulis karena menulis memerlukan pemikiran, pengetahuan, imajinasi, dan keseriusan. Orang yang pintar secara akademik juga belum tentu mampu berinteraksi dengan berbagai narasumber sebagai seorang reportase, atau melihat objek yang bagus untuk diabadikan melalui lensa kamera. Untuk itu diperlukan adanya latihan.
Pelatihan jurnalistik merupakan proses pembelajaran bagi mahasiswa untuk menambah wawasan dan terus berkarya. Tujuan pelatihan ini pertama, memberikan fasilitas kemampuan menulis dan analisis jurnalistik baik dalam bentuk tulisan maupun jurnalisme foto. Kedua, membudayakan menulis kepada mahasiswa yang selama ini memang sangat lemah. Ketiga, mengembangkan minat dan bakat mahasiswa agar dapat menumbuhkan kreator-kreator muda dalam dunia jurnalistik. Selain pelatihan, tak heran jika setiap kampus mempunyai media jurnalistik tersendiri sebagai wadah berkecimpungnya mahasiswa-mahasiswi yang gemar melakukan aktivitas jurnalistik, di sela-sela waktu kuliah. Apalagi kampus yang memang khusus mengajarkan mata kuliah atau bidang jurnalistik itu sendiri. Sekarang ini juga semakin banyak diadakan berbagai lomba jurnalistik yang tentunya bertujuan meningkatkan motivasi kita untuk berkarya.
Jurnalistik merupakan arena mendulang kreativitas, menuangkan gagasan-gagasan dan jalan menuju perubahan. Sedangkan para mahasiswa merupakan sumber bakat yang tiada habisnya untuk berbagai inovasi. Sudah seharusnyalah generasi muda bangsa bangkit, melaksanakan peranannya yang semestinya dengan menyalurkan aspirasi masyarakat, menuangkan ide-ide kreatif dan melahirkan karya-karya baru melalui jurnalistik. Let’s we begin.
Dwina, dari berbagai sumber

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s