6 April [Cerpen Pertama]

Perkenalkan, ini cerpen pertamaku😀 #sebenarnya agak malu mengakuinya -_-

6 April

Bengkalis, suatu hari di tahun 2003
                            Seorang anak perempuan yang baru beberapa bulan menjadi siswa berseragam putih biru, melangkah dengan riang menapaki koridor sekolahnya. Pelajaran hari itu telah usai. Murid-murid kelas lain pun mulai berhamburan keluar. Ada yang berlari-lari saling mengejar, ada yang melempar-lempar tas, ada pula yang ketawa-ketiwi dengan teman-temannya, layaknya tingkah polah anak SMP.
                            Gadis kecil itu berjalan seorang diri menelusuri kota di Pulau Bengkalis. Sebuah pulau di Riau yang mempunyai letak yang sangat strategis, karena dilalui oleh jalur perkapalan internasional menuju ke Selat Malaka.
                            Semangat si gadis kecil mengimbangi terik matahari di siang itu, semangat untuk pergi ke sebuah taman bacaan. Rasanya sudah tak sabar ingin cepat-cepat menyewa buku komik. Atau bila tak punya cukup uang, biasanya dia membaca komik di sana hingga sore hari.
                            Hal itu sudah menjadi rutinitasnya sejak mengetahui ada sebuah taman bacaan di kotanya yang menyewakan beraneka jenis komik dari serial cantik, horor, heroik, sampai komik detektif seperti Detective Conan atau komik lucu seperti Doraemon. Semenjak itu si gadis kecil mulai menyisihkan uang jajannya. Lalu paling tidak dua hari sekali pergi ke taman bacaan itu untuk menyewa atau sekedar membaca komik-komik kesukaannya.
                            Tak jauh beberapa meter di depannya, ternyata ada sesosok anak laki-laki sedang berjalan. Anak itu memakai seragam sekolah yang sama dengannya. Sepertinya dari tadi anak laki-laki itu menelusuri jalan yang sama, menuju taman bacaaan. Si gadis kecil pun mempercepat langkahnya menyusul anak laki-laki itu.
*   *   *
Bengkalis, 6 April 2008                         
                            Happy birthday, Hani sayang! Hari ini anak perempuan mama yang paling besar sudah 17 tahun. Kamu bukan anak kecil lagi sekarang,” ujar mama yang tiba-tiba masuk ke kamarku. Aku menggeliat di atas kasur. Pagi-pagi mama sudah membangunkanku dengan ucapan selamat ulang tahunnya. Mama lalu mengecup keningku seraya berkata, ”Mandi sana, lekas berangkat sekolah. Hari ini mama akan masak makanan yang spesial buat kamu.”
                            Dengan langkah gontai aku menuju kamar mandi, lalu sarapan dan berangkat sekolah seperti biasa. Hari ini aku sudah menginjak usia 17 tahun. Sudah hampir dua tahun pula aku duduk di bangku SMA, masa yang paling indah kata orang. Aku tak tahu kenapa kebanyakan orang bilang begitu. Katanya sih karena sudah remaja. Masa remaja itu kan penuh warna dan karena pada masa itulah orang mulai mengenal yang namanya… cinta? Bener gak sih? Toh bagiku semua sama saja. Dari kecil sampai sekarang yang terpenting bagiku adalah bagaimana aku bisa menjalani hari-hari dengan senyuman. Tak peduli berapa pun usiaku.
                            Sampai di sekolah beberapa teman dekatku mengucapkan selamat. Ada yang menjabat tangan dan pula yang memelukku. Pulang ke rumah aku disuguhi makanan yang enak-enak buatan mama. Lalu kami sekeluarga santap siang bersama, aku, mama, papa, abang dan kedua adikku yang selalu bertengkar. Walau tak ada pesta sweet seventeen, buatku itu semua sudah lebih dari cukup. Namun rasanya tetap ada yang hilang di hari ulang tahunku dua tahun terakhir ini.
*   *   *
                            “Hai…” sapa si gadis kecil pada anak laki-laki itu. Kini dia sudah mensejajari langkah si anak laki-laki. Namun anak laki-laki itu diam saja dan terus melangkah.
                            “Kamu siswa SMP 1 juga, ya?” tanya si gadis kecil. Anak laki-laki itu menoleh sebentar ke arahnya, lalu kembali melangkah tanpa berbicara sepatah kata pun. Tapi si gadis kecil tampaknya pantang menyerah. Mungkin aku bisa menambah teman baru lagi, pikirnya. Dia berjalan dengan cepat lalu berhenti tepat di hadapan si anak laki-laki. Langkah anak laki-laki itu pun terhenti.
                            “Namaku Hani, kelas I-A, nama kamu siapa?” gadis kecil bernama Hani itu mengulurkan tangannya. Di wajahnya terlukis seulas senyuman. Anak laki-laki itu masih membisu. Dilihatnya Hani dengan tatapan aneh. Namun Hani tetap dengan senyumnya yang mengembang. Tangannya juga masih terjulur untuk berjabatan.
                            Sesaat hening… hanya terdengar deru kendaraan di jalanan kota yang sedari tadi mereka lewati. Lalu tiba-tiba…
                            “Raga… namaku Raga, kelas I-C,” anak laki-laki itu akhirnya bersuara dan menjabat tangan Hani. Senyum gadis kecil itu pun semakin mengembang.
*   *   *
Bengkalis, 6 April 2009                         
                            “Happy birthday Hani sayang! Sekarang anak perempuan mama yang paling besar sudah 18 tahun. Sebentar lagi kamu akan menjadi mahasiswa. Kamu sudah dewasa sayang,” ucap mama sambil membuka tirai jendela kamarku. Terkadang bosan juga mendengar ucapan mama yang itu-itu saja di hari  ulang tahunku. Walau kali ini ucapan itu ditambahi dengan embel-embel “dewasa”.
                            Tapi benarkah aku sudah dewasa? Tanyaku dalam hati. Ujian Nasional memang tinggal menghitung hari dan itu artinya tinggal menghitung hari pulalah aku akan menjadi seorang mahasiswa. Tapi apa iya, jadi mahasiswa itu harus bersikap dewasa? Atau seorang mahasiswa itu pasti sudah dewasa? Ah, masa bodoh! Yang penting aku tetap berusaha menjalani hari-hariku dengan penuh senyuman… Syalala…gumamku dalam hati sambil menyambar handuk dan siap-siap berangkat sekolah.
                            Di sekolah, teman-temanku yang semakin banyak di tahun ketiga ini seperti biasa mengucapkan selamat dan menjabat tanganku. Teman-teman dekat pun memberi kado untukku. Tiba di rumah, mama tetap masak makanan yang istimewa lalu kami sekeluarga makan bersama. Kedua adikku pun masih saja hobi bertengkar. Tak banyak yang berubah di hidupku tiga tahun terakhir ini. Walau tetap kulalui dengan riang gembira, namun bagian yang hilang itu masih terus membayangiku. Selamat ulang tahun kita berdua… ucapku dalam hati.
*   *   *
                            “Kamu mau ke taman bacaan itu juga, ya?” Hani tetap berceloteh pada Raga yang tampaknya pendiam.
                            “Emangnya kenapa? Kamu membuntuti aku, ya?” Raga malah curiga dan balik bertanya.
                            “Eh, bukan, bukan,” Hani menggeleng. “Aku hampir tiap hari ke taman bacaan itu dan sejak tadi, sepertinya kamu melewati jalan yang sama denganku. Aku pikir kamu juga pasti mau ke taman bacaan itu, sama sepertiku,” jelas Hani panjang lebar.
                            Raga tersenyum tipis.
                            “Ayo kita ke sana! Nanti taman bacaannya keburu rame,” seru Raga sambil menarik tangan Hani. Seketika Hani heran dengan sikap Raga. Wajahnya pun memerah bak tomat yang baru matang. Ternyata dia baik juga, pikir Hani.
                            Semenjak itu keduanya mulai akrab. Mereka sering berjalan bersama ke taman bacaan itu sepulang sekolah. Raga memang cenderung pendiam seperti awal perkenalannya dengan Hani. Namun ketika membicarakan hal yang disukainya, ternyata anak itu tak bisa diam juga!
*   *   *
Jakarta, 6 April 2010                              
                            “Krrriiiinnggg,” jam beker di kamar kostku melengking. Kututup kedua telingaku dengan bantal, mencoba untuk terlelap lagi. Namun kebisingannya masih meraja lela. Akhirnya aku mengalah dan mematikannya. Kulihat jam itu sudah menunjukkan pukul 05.30. Baru ingat hari ini ada jadwal kuliah pagi. Kalau tidak, aku pasti masih di balik selimutku yang hangat itu!
                            “Hooaahhhmmm,” sambil menguap aku menuju meja belajar. Kumasukkan buku-buku yang akan kubawa ke kampus. Tanpa sengaja, mataku tertuju pada lingkaran biru yang tertoreh pada kalender, di atas meja belajarku. Lingkaran yang tepat melingkari angka 6 di bulan ini. 6 April. Ternyata hari ini ulang tahunku yang ke… berapa ya? Rupanya kesibukan kuliah membuatku lupa dengan ulang tahun sendiri. Aku lalu menghitung. Aku lahir tahun 1991, sekarang tahun 2010. Berarti ke… 19 tahun! Hufhh, begitu cepatkah waktu berlalu?
                            Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Ya, ini ulang tahun pertamaku di Jakarta, jauh dari keluarga dan teman-teman sekolahku. Aku pun sangat merindukan mama. Ucapan selamat ulang tahunnya yang membosankan kini tak lagi kudengar tapi justru sangat kurindukan. Aku juga rindu papa, abang dan kedua adikku yang selalu bertengkar, padahal dulu aku sering kesal melihat mereka yang kerjanya berantem terus. Ternyata, hal yang sering kita dapatkan walaupun itu membosankan justru menjadi bagian yang paling kita rindukan ketika kita tak lagi mendapatkannya.
                            Akhirnya waktu pun membuyarkan lamunanku dan waktu jugalah yang memaksaku untuk segera mandi dan berangkat kuliah. Di kampus, teman-teman sekelasku juga banyak yang mengucapkan selamat untukku. Namun tetap saja, bagian yang hilang itu kembali menyisakan lubang kecil di hatiku. Tanpa terasa air mataku bergulir. Selamat ulang tahun… Raga.
*   *   *
Bengkalis, suatu hari di tahun 2004
                            “Hani, Raga, kalian terpilih mewakili sekolah kita untuk mengikuti Olimpiade Matematika bulan depan. Jadi mulai besok ibu selaku guru pembimbing akan memberikan pelajaran tambahan untuk persiapan olimpiade nanti. Kalian bersedia?” tanya Bu Leli, guru Matematika mereka siang itu.
                            Hani dan Raga saling pandang. Keduanya memang menyukai matematika dan selalu menjadi juara 1 di kelasnya masing-masing. Mereka pun serempak menjawab, “Bersedia, Bu.”
                            “Oya, jangan lupa besok kalian juga harus membawa biodata untuk diserahkan ke panitia pendaftaran. Ini lembar isian biodatanya,” kata bu Leli sambil menyerahkan dua lembar kertas.
                            “Baik, Bu.”
                            Keesokan harinya…
                            “Raga, kamu sudah nyiapin biodata, belum?” tanya Hani pagi itu.
                            “Udah kok. Nih, digabung aja sama punya kamu,”
                            Sekilas Hani melihat isian biodata Raga. Mata Hani terhenti pada tulisan yang sangat dikenalnya. Ya, tulisan ‘6 April’ di isian tanggal lahir!
                            “Raga, kamu… Ternyata kamu lahir tanggal 6 April ya!” seru Hani tak percaya.
                            “Iya, emang kenapa?”
                            “Liat nih,” kata Hani sambil memperlihatkan isian tanggal lahirnya. “Aku juga lahir 6 April,” lanjutnya.
                            “Oya? Wah, berarti kita lahir di hari yang sama dong!”
                            “Iya, dan kita bisa rayain ulang tahun bareng-bareng!”
*   *   *
Jakarta, tiga hari sebelum 6 April 2011
                            Matahari dengan malu-malu mulai menampakkan diri, menggantikan warna langit yang gelap menjadi terang. Pagi yang indah, sepertinya hari ini akan cerah. Kubuka jendela kamarku. Terasa semilir angin yang ternyata masih menemani kota Jakarta, seperti beberapa hari belakangan ini. Kuputuskan mengisi weekend kali ini dengan nongkrong di Gramedia. Barangkali ada buku yang menarik untuk kubeli atau sekedar membaca komik Detective Conan dan Naruto di sana.
                            Sesampainya di Gramedia Matraman, aku duduk di bangku dekat pintu masuk, melepas lelah sejenak dari perjalanan di angkot tadi. Matahari yang mulai meninggi pun seakan turut mengeringkan tenggorokanku. Kuteguk minuman yang kubeli sebelum berangkat tadi.
                            Tanpa kusadari seseorang telah berdiri dihadapanku.
                            “Hani…?”
                            Kepalaku menengadah melihat wajah orang yang menyebut namaku itu. Mataku terbelalak mengenali sosok laki-laki itu.
                            “Ra… Raga?”
*   *   *
Bengkalis, 6 April 2006
                            Sejak mengetahui bahwa mereka lahir di hari yang sama, selama SMP Hani dan Raga selalu merayakan ulang tahun bersama-sama. Perayaan itu hanya sederhana, seperti pada ulang tahun di tahun ketiga ini. Ketika itu kelas Hani sedang melaksanakan ujian praktek mata pelajaran Agronomi di Ruang Keterampilan. Mereka dibagi ke dalam beberapa kelompok dan ditugaskan memasak sebuah menu. Hani dan kelompoknya memasak puding susu. Hmm, yummy… dan kelihatannya segar sekali. Setelah mendapat penilaian dari guru, diam-diam Hani mengambil dua gelas puding lalu berlari keluar ruangan.
                            Hani pun berjalan melewati koridor belakang sekolah, menuju kelas Raga. Terlihat dari jendela, seisi kelas sedang serius belajar Matematika.
                            “Psstt, psstt…! Raga!” bisik Hani memanggil Raga yang sedang asyik mencatat, takut ketahuan Bu Leli. Untungnya Raga segera melihatnya.
                            “Ada apa, Han?” tanya Raga tanpa suara, hanya dengan gerakan bibir.
                            “K-e-l-u-a-r s-e-b-e-n-t-a-r !” Hani mengeja ucapannya dengan pelan. Raga pun mengangguk.
                            “Bu, boleh saya permisi ke toilet sebentar?” Raga minta izin pada bu Leli yang sedang mencatat di papan tulis.
                            “Ya, silahkan,” jawab bu Leli tanpa menoleh ke arahnya, terus mencatat.
                            Secepat kilat Raga menemui Hani.
                            “Ayo, ke kelasku!” Hani masih setengah berbisik. Keduanya lalu berlari menuju kelas Hani.
*   *   *
                            Raga duduk di sampingku, “Apa kabarmu, Han?”
                            “Kemana saja kau?”
                            “Hani, aku…”
                            “Sejak lulus SMP kau gak pernah ngasi kabar. Aku tak tahu kau ada dimana. Setiap hari ulang tahun kita aku selalu merasa sendiri. Kenapa kau…”
                            “Ayahku meninggal dunia dua hari sebelum kelulusan sekolah.”
                            Aku terdiam, menatap Raga tak percaya.
                            “Tanpa keluarga yang lain, aku, ibu dan kedua adikku tak bisa tinggal di kota itu lagi. Ibu memutuskan kami pindah ke kampung halamannya. Lalu aku melanjutkan sekolah di sana,” jelas Raga sambil menatap mataku dalam-dalam. “Aku minta maaf karena tak pernah mengabarimu. Aku hanya percaya, suatu hari nanti kita pasti bertemu lagi. Ya, kan?” Raga tersenyum.
                            “Stupid! Aku takkan memaafkanmu!” candaku. “Lalu bagaimana kau bisa ada di sini?”
                            “Hey, emangnya kamu aja yang bisa kuliah di Jakarta?”
                            Aku tersenyum, “Bukan begitu…”
                            “Sudahlah, kamu mau ke dalam kan? Ayo, kita masuk!” Raga menarik tanganku.
                            Aku masih tak percaya bisa bertemu lagi dengan Raga setelah hampir lima tahun lamanya. Bahkan hampir sama seperti pertama kali bertemu dengannya dulu, saat dia mengajakku masuk ke taman bacaan itu dan menarik tanganku. Sebegitu luasnyakah Jakarta ini, sampai-sampai hampir dua tahun kuliah kami tak pernah bertemu di kota ini.
                            Dalam diam kami melihat-lihat jejeran buku di rak. Kulihat Raga mengambil komik One Piece. Aku pun telah membuka-buka komik Detective Conan. Kami hanyut dalam bacaan masing-masing. Tapi yang ada dalam benakku hanyalah rasa rindu yang tak terbendung lagi. Ingin sekali rasanya aku menanyakan banyak hal, bagaimana kehidupannya lima tahun ini, kuliahnya, pengalamannya dan aku pun ingin bebagi cerita dengannya. Bahkan sangat ingin mengatakan, jangan pergi lagi… Tapi mulutku hanya bungkam. Debaran aneh menyusup di jantungku.
                            Keluar dari Gramedia, kami menuju pedagang kaki lima di pinggiran jalan. Kami makan di situ sambil bercerita banyak hal. Hingga waktu menunjukkan pukul 14.00, Raga berkata dia masih ada urusan dan harus segera pergi. Pertemuan hari itu pun berakhir di shelter busway.
                            “Aku janji, Hani. Tanggal 6 April nanti kita akan merayakan ulang tahun sama-sama lagi.”
                            “Dan janji, jangan pergi lagi?” akhirnya kata-kata itu keluar juga dari bibirku.
                            “Haha… Iya, aku janji,” Raga tertawa melihat kekhawatiranku.
                            Kulihat Raga merogoh tasnya.
                            ”Oya, Hani, ini untukmu,” Raga memberikan sesuatu padaku. Sebuah kalung? “Ini pemberian almarhum ayahku untuk ibuku. Ibuku memberikan kalung ini sebelum aku berangkat ke Jakarta dulu. Aku selalu membawanya kemana pun aku pergi. Dan sekarang, aku minta kau menjaganya baik-baik, ya.”
                            “Tapi, Raga…” aku ragu menerimanya.
                            “Sudahlah, anggap saja ini sebagai permohonan maafku. Aku pergi dulu ya. Dagh, Hani!” Raga melambaikan tangannya dan segera menaiki bus transjakarta. Tatapan mataku mengikuti kepergiannya. Tak kulewatkan setiap inci tubuhnya hingga pintu bus merapat. Lalu bus itu berlalu, menyisakan hembusan angin yang menerpa wajahku. Aku tertegun. Lama kupandangi kalung itu.
*   *   *
                            Kelas III-A itu masih kosong karena penghuninya sedang asyik menikmati masakan mereka di Ruang Keterampilan.
                            “Ini aku bawain puding untuk rayain ulang tahun kita,” senyum khas Hani mengembang.
                            “Wah, surprise banget, Han! Kamu nekat juga ya!” sahut Raga takjub.
                            “Udah deh. Ayo, kita makan, sebelum teman-teman lain balik ke sini,”
                            Mereka pun makan sambil tertawa.
                            “Makasih ya Han,” kata Raga sambil menatap Hani.
                            “Eits, dalam persahabatan gak ada kata ‘terima kasih’ lho!“
                            “Sok tahu, kamu,” Raga mengacak-acak rambut Hani. “Ehm, aku gak bisa lama-lama karena tadi cuma bilang ke toilet sebentar ke Bu Leli”
                            “Iya, buruan gih,”
                            “Hmm, lupa ngucapin nih…”
                            “Selamat ulang tahun kita berdua!” ucap mereka berdua serempak sambil tertawa.
                            “Ya udah deh, aku balik ke kelas dulu, ya! Dagh, Hani!” Raga berlari keluar seraya melambaikan tangan. Hani terus menatap kepergiannya hingga Raga menghilang di balik pintu.
*   *   *
Jakarta, 6 April 2011
                            Aku menunggu Raga di tepian jalan dekat sebuah taman. Masih setengah jam lagi dari waktu yang dijanjikan. Dasar akunya aja yang gak sabaran. Seakan tak ingin melewatkan hari ulang tahun tanpa Raga lagi. Aku sungguh bahagia hari ini bisa merayakan ulang tahun bersama-sama lagi.
                            Aku tersadar dari lamunanku ketika melihat Raga melambaikan tangannya dari seberang sana. Aku tersenyum menanti Raga yang sedang berjalan  ke arahku. Namun tiba-tiba… sebuah truk melaju kencang di jalan itu. Sepertinya truk itu kehilangan kendali!
                            “Raga! Awas!” teriakku mencoba memberitahu Raga.
                            Namun terlambat, truk itu lebih cepat dari teriakanku. Tubuh Raga terpental, lalu terhempas di atas aspal, tepat di depan kedua mataku sendiri. Darah pun mulai menggenang.
*   *   *
Bengkalis, pengumuman kelulusan 2006
                            Hari ini pengumuman hasil Ujian Nasional. Hani mendapat nilai tertinggi di sekolahnya dan Raga mendapat peringkat kedua. Namun anehnya Raga tidak hadir, padahal ini hari terakhir mereka SMP. Kemana Raga? Aku bahkan belum bertanya padanya akan melanjutkan sekolah di mana. Hani bertanya-tanya dalam hati. Sejak itu Raga menghilang…
*   *   *
                            Waktu terus berlalu, menutup angan-angan dan kegelisahan. Masih kugenggam selembar kertas dari Raga. Puisi yang sempat diberikannya padaku, sebelum saat-saat terakhirnya…
Telah kita jejakkan beberapa potong kenangan di Gramedia Matraman
Kita selipkan dua buah rindu yang kita petik dari kisah masa lalu
Semenjak pertemuan terakhir kita semasa putih biru
Di lembaran komik Detective Conan edisi 61 dan One Piece edisi 60
Pun telah kusimpan sebuah dukaku di halaman pertengahan salah satu novel Agnes Jessica favoritmu
Mungkin ‘kan kau temukan, mungkin pula tidak
Namun, kau pasti tidak tahu Hani…
Telah kusimpan sesuatu dalam-dalam
Sesuatu yang sangat ingin dimaknai olehku, semoga juga olehmu
Di busway Matraman, sedetik sebelum tatapan mata kita berpisah
Bukankah milikku yang berharga ‘tlah kutitipkan kepadamu?
Baik dengan ataupun tanpa sesuatu itu…
*   *   *
Author: Dwina Wardhani Nasution
Poem By: Goradok Panderaja Sinabutar

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s